Tomohon, Berita Geothermal – Selama lebih dari dua dekade beroperasi, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menjadi tonggak penting perjalanan PT PLN (Persero) dalam mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di kawasan timur Indonesia.
Pembangkit ini menjadi bukti nyata komitmen PLN dalam menyediakan listrik bersih yang andal, stabil, dan berkelanjutan bagi masyarakat Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo).
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa PLN terus memperkuat perannya sebagai motor utama transisi energi nasional.
PLN berkomitmen mendukung transisi energi berbasis energi baru terbarukan menuju Net Zero Emissions.
Melalui pengembangan berbagai sumber energi bersih, kami berupaya menghadirkan pasokan listrik yang andal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Keberadaan PLTP Lahendong membuktikan bahwa sejak lama PLN menjadi pionir pengembangan energi terbarukan di Tanah Air,” ujar Darmawan, Rabu (19/11/2025).

Kontributor Terbesar Energi Bersih di Sulutgo
PLTP Lahendong yang dikelola PT Indonesia Power (PLN IP) menjadi pembangkit EBT terbesar di wilayah Sulutgo, mengungguli kontribusi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) maupun tenaga surya.
Total kapasitas terpasang PLTP Lahendong saat ini mencapai 4 x 20 MW atau 80 MW.
Sebelumnya, Manager Unit Layanan Pusat Listrik PLTP Lahendong PLN IP, H.S.M. Saragih menjelaskan, dari total beban puncak sistem kelistrikan Sulutgo sebesar 490 MW, PLTP Lahendong menyuplai sekitar 18% kebutuhan listrik.
“Panas bumi di wilayah ini tidak hanya menjadi porsi signifikan energi bersih, tetapi juga memastikan pasokan listrik tetap stabil dan andal bagi pelanggan di seluruh Sulutgo,” jelas Saragih di Tomohon, Rabu (30/10/2025).
Pionir Panas Bumi di Timur Indonesia
PLTP Lahendong merupakan salah satu proyek panas bumi pertama yang dikembangkan di kawasan timur Indonesia.
Eksplorasi dimulai sejak 1994-1996, disusul pembangunan Unit 1 pada 1996 yang kemudian beroperasi komersial pada 2001.
Unit 2 menyusul pada 2007, Unit 3 pada 2009, dan Unit 4 pada 2011. Seluruh unit tercatat masih beroperasi optimal hingga kini.
“Unit 1 sudah beroperasi 25 tahun dan masih bisa menghasilkan 20 MW penuh. Demikian juga Unit 2, 3, dan 4 yang hingga saat ini tetap beroperasi maksimal menyuplai sistem Sulutgo,” ujar Saragih.
Satu-satunya PLTP yang Berlokasi di Kawasan Perkotaan
Yang membuat PLTP Lahendong semakin unik adalah lokasinya. Berbeda dengan PLTP lain di Indonesia yang umumnya dibangun di pedesaan atau pegunungan terpencil, PLTP Lahendong menjadi satu-satunya PLTP yang beroperasi di wilayah perkotaan, tepatnya di Kota Tomohon.
“PLTP Lahendong sangat unik karena berada di Kota Tomohon. Ini menjadi bukti bahwa pembangkit panas bumi aman bagi lingkungan dan dapat hidup berdampingan dengan kawasan perkotaan,” kata Saragih.
Keberadaan PLTP ini mengirim pesan kuat bahwa transisi menuju energi bersih dapat diwujudkan tanpa mengorbankan ekosistem maupun kenyamanan masyarakat.
Dukung Transisi Energi dan Penurunan Emisi
Selain menjadi tulang punggung kelistrikan Sulutgo, PLTP Lahendong juga memainkan peran penting dalam agenda dekarbonisasi nasional.
Pembangkit ini menjadi penyedia listrik bersih untuk Renewable Energy Certificate (REC), yang menunjang pengurangan emisi dari sektor ketenagalistrikan.
PLTP Lahendong adalah contoh nyata bagaimana energi panas bumi mendukung transisi energi nasional.
“Dengan sertifikasi REC, pembangkit ini membuktikan bahwa energi bersih dapat diandalkan untuk menekan emisi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan,” tutup Saragih.
Dengan kapasitas terbesar sebagai pemasok EBT di Sulutgo, PLTP Lahendong tidak hanya menjadi pilar pasokan listrik andal, tetapi juga simbol komitmen Indonesia menuju masa depan energi yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.***
*Press Release No. 250.PR/STH.01.05/XI/2025
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















