Jakarta, Berita Geothermal – Pengembangan proyek geothermal atau panas bumi di Flores kembali menjadi sorotan di tengah kekhawatiran sebagian masyarakat terkait potensi dampaknya terhadap sumber air warga. Namun, ahli geothermal Ali Ashat menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sesuai dengan fakta teknis di lapangan.
Ali memastikan fluida panas bumi yang dimanfaatkan dalam proyek geothermal berada jauh di bawah lapisan air tanah masyarakat sehingga tidak bercampur dengan sumber air yang digunakan sehari-hari.
“Air geothermal berada di kedalaman yang sangat dalam dan terpisah dari air tanah. Selain itu, sumur geothermal dilapisi casing baja dan semen berlapis sehingga tidak terjadi kebocoran maupun pencampuran dengan air yang digunakan masyarakat,” jelas Ali.
Ia menerangkan, secara alami terdapat lapisan batuan kedap yang memisahkan sistem panas bumi dengan lapisan air tanah dangkal maupun sumber air permukaan milik warga. Karena itu, sistem geothermal dinilai aman selama proyek dijalankan sesuai standar teknis dan lingkungan yang berlaku.
Menurut Ali, asumsi bahwa proyek geothermal dapat mengurangi cadangan air tanah masyarakat juga tidak tepat apabila seluruh tahapan operasional dilakukan sesuai prosedur.
“Secara teknis, sistem geothermal bersifat tertutup dan aman,” tegasnya.
Ali menjelaskan, kebutuhan air dalam proyek geothermal hanya digunakan untuk operasional di permukaan, seperti sanitasi, kebutuhan pekerja, serta fasilitas pendukung lainnya. Sementara sistem utama panas bumi berada jauh di bawah permukaan tanah dan tidak berkaitan langsung dengan sumber air warga.
Di sisi lain, geothermal disebut memiliki keunggulan sebagai energi baru terbarukan karena mampu menghasilkan listrik secara stabil tanpa bergantung cuaca.
“Kalau bicara listrik, kita membutuhkan energi yang mampu menyuplai secara konsisten sepanjang hari. Geothermal memiliki karakter tersebut,” ujarnya.
Meski memiliki potensi besar, Ali mengingatkan pengembangan geothermal tetap harus memperhatikan tiga aspek penting agar proyek berjalan berkelanjutan, yakni kelayakan teknis, ekonomi, serta penerimaan sosial dan lingkungan.
“Kalau secara teknis dan ekonomi sudah layak, tetap harus dipastikan dapat diterima masyarakat dan tidak merusak lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Rizki Aftarianto mengatakan pengembangan geothermal di Flores dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan keterbukaan informasi kepada masyarakat.
“PLN memahami bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang utuh dan benar terkait pengembangan geothermal. Karena itu, kami terus membuka ruang dialog dan menghadirkan penjelasan berbasis kajian ilmiah agar masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat,” ujarnya.
Rizki menambahkan, pengembangan energi panas bumi menjadi bagian penting dalam mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia secara berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















