Berita Geothermal – Proyek panas bumi Baturaden di Gunung Slamet, Jawa Tengah, yang dikelola PT Sejahtera Alam Energi (SAE), memasuki babak baru. Proses pemanfaatan panas bumi di Banyumas ini diproyeksikan akan mendapat dorongan menyusul rencana akuisisi PT Futura Energi Global Tbk (IDX: FUTR) oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara).
Selama ini, proyek dengan potensi kapasitas terpasang sekitar 220 MW tersebut belum menunjukkan kemajuan signifikan, meski sudah mengantongi perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan PLN. Padahal PPA sejatinya memberikan kepastian pasar bagi listrik ramah lingkungan yang dihasilkan kelak.
Di sisi lain, masuknya FUTR melalui akuisisi Ardhantara dipandang sebagai langkah strategis untuk mengubah arah bisnis Futura, dari perusahaan berbasis konten digital menjadi entitas energi terintegrasi. Melalui konsolidasi aset, Futura berpeluang menjadi kendaraan utama dalam menghimpun pendanaan proyek panas bumi Baturaden, baik lewat pasar modal maupun instrumen keuangan hijau.
“Dengan transformasi ini, Futura akan memiliki posisi lebih kuat dalam mendukung pengembangan energi terbarukan, khususnya proyek geothermal Gunung Slamet,” ujar Executive Chairman Ardhantara, Anggara Suryawan, dikutip Jumat (22/8).
Jika aksi korporasi ini berjalan sesuai rencana, diharapkan proyek Baturaden tidak hanya memperoleh kepastian keberlanjutan, tetapi juga mempercepat kontribusi panas bumi Gunung Slamet dalam bauran energi nasional.
Proyek Baturaden: Potensi Besar yang Tertunda
Proyek PLTP Baturaden termasuk dalam program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW Tahap II. Dengan kapasitas 220 MW, proyek ini awalnya ditargetkan bisa beroperasi komersial pada 2023–2024. Namun hingga pertengahan 2025, kemajuan signifikan masih belum terlihat.
Eksplorasi panas bumi Baturaden dimulai pada 2017–2018. Pengeboran hingga kedalaman sekitar 3.400 meter di well pad H tidak menemukan cadangan panas bumi ekonomis. Hingga Mei 2018, pengeboran dihentikan dan sumur H ditutup sementara dengan status observasi suhu harian. SAE kemudian mengajukan perpanjangan izin eksplorasi hingga Juli 2020.
Secara teknis, indikasi potensi panas bumi Baturaden terbilang tinggi. Dan hingga akhir 2016, investasi yang telah digelontorkan SAE untuk pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Baturaden mencapai US$ 13,2 juta (sekitar Rp215,688 miliar, kurs ± Rp16.340/US$).
Selain itu, SAE juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat, seperti merekrut tenaga kerja lokal, memperbaiki jalan dan jembatan, serta menyediakan pasokan air bersih.
Dengan hadirnya Futura Energi melalui konsolidasi Ardhantara, muncul harapan baru bahwa proyek panas bumi Baturaden yang lama tertunda dapat kembali mendapatkan momentum, sekaligus memperkuat kontribusi energi terbarukan dalam transisi energi nasional.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















