Tomoho, Berita Geothermal — Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, selama lebih dari dua dekade beroperasi sebagai salah satu sumber listrik utama berbasis energi terbarukan di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo). Keberadaan pembangkit ini menjadi bagian dari upaya PT PLN (Persero) memperkuat bauran energi bersih dan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di kawasan timur Indonesia.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa pengembangan PLTP Lahendong sejalan dengan arah strategi perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi.
“PLN berkomitmen mendukung transisi energi berbasis energi baru terbarukan menuju Net Zero Emissions. Melalui pengembangan berbagai sumber energi baru terbarukan, kami berupaya menghadirkan pasokan listrik yang andal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan demi masa depan energi Indonesia. Keberadaan PLTP Lahendong ini membuktikan bahwa sejak lama PLN telah menjadi pionir dalam pengembangan energi terbarukan di Tanah Air,” ujar Darmawan.
Kontribusi Energi Panas Bumi dalam Sistem Kelistrikan Sulutgo
PLTP Lahendong berada di bawah pengelolaan PT Indonesia Power (PLN IP), dengan empat unit pembangkit berkapasitas total 80 Mega Watt (MW). Pembangkit tersebut menjadi kontributor terbesar energi terbarukan di sistem Sulutgo, sekaligus mendukung stabilitas pasokan listrik di wilayah itu.
Manager Unit Layanan Pusat Listrik PLTP Lahendong PLN IP, H.S.M. Saragih, menjelaskan besaran kontribusi pembangkit tersebut.
“Beban puncak sistem kelistrikan Sulutgo saat ini tercatat mencapai 490 MW. Dari jumlah itu, 18 persen suplai listrik dihasilkan oleh PLTP Lahendong. Artinya panas bumi di wilayah ini tidak hanya berkontribusi signifikan terhadap porsi energi bersih, tetapi juga memastikan pasokan listrik tetap stabil dan andal bagi seluruh pelanggan di Sulutgo,” tutur Saragih, Rabu (19/11).
Meski demikian, bauran energi di Sulutgo masih berasal dari berbagai sumber lain yang turut menjaga keseimbangan suplai, termasuk pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit berbasis energi fosil.
Tahapan Pengembangan Sejak 1990-an
Lahendong merupakan salah satu proyek panas bumi yang dikembangkan lebih awal di Indonesia timur. Eksplorasi pertama dilakukan pada 1994–1996, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan unit pembangkit secara bertahap. Unit 1 mulai beroperasi komersial pada 2001, Unit 2 pada 2007, Unit 3 pada 2009, dan Unit 4 pada 2011.
“Unit 1 sudah beroperasi selama 25 tahun dan masih bisa beroperasi maksimal 20 MW. Unit 2 beroperasi sejak 2007, unit 3 pada 2009, dan unit 4 pada 2011. Semuanya hingga kini masih beroperasi penuh menyuplai sistem Sulutgo,” kata Saragih.
Lokasi Berbeda dari PLTP Lain di Indonesia
Salah satu hal yang membedakan PLTP Lahendong dari pembangkit panas bumi lain adalah lokasinya yang berada di wilayah perkotaan. Hal ini dinilai menunjukkan bahwa pembangkit panas bumi dapat beroperasi berdampingan dengan aktivitas masyarakat.
“PLTP Lahendong sangat unik karena berada di Kota. Di seluruh Indonesia, pembangkit panas bumi umumnya berada di kabupaten, kecamatan, atau desa. Lahendong satu-satunya di perkotaan, tepatnya di Kota Tomohon. PLTP Lahendong menjadi contoh konkret bahwa pembangkit panas bumi tidak hanya aman bagi lingkungan, tetapi juga bisa berdampingan dengan kehidupan perkotaan,” ujar Saragih.
Keberadaan pembangkit di area urban menimbulkan dinamika tersendiri dalam pengelolaannya, termasuk kebutuhan untuk menjaga lingkungan sekitar dan memastikan operasional tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Peran dalam Mendukung Dekarbonisasi Nasional
Selain memasok listrik untuk wilayah Sulutgo, PLTP Lahendong juga terlibat dalam program penurunan emisi melalui penyediaan listrik bersertifikat Renewable Energy Certificate (REC). Sertifikasi tersebut digunakan oleh pelanggan yang membutuhkan bukti penggunaan energi terbarukan.
“PLTP Lahendong menjadi contoh nyata bagaimana energi panas bumi dapat mendukung agenda transisi energi nasional. Pembangkit ini pun telah tersertifikasi untuk menyuplai REC, hal ini membuktikan bahwa energi bersih dapat diandalkan untuk menekan emisi sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan,” kata Saragih.
Meskipun memberi kontribusi signifikan, pengembangan energi panas bumi di Indonesia masih menghadapi tantangan, seperti kebutuhan investasi besar, kompleksitas eksplorasi, dan sensitivitas lingkungan. Namun, PLN menilai potensi panas bumi di berbagai wilayah masih dapat terus dikembangkan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















