Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyoroti peran kawasan Asia, khususnya Indonesia, dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan energi fosil dan energi terbarukan. Dalam forum Asia New Vision Forum (ANVF) 2025 di Singapura, Direktur Keuangan PGE, Yurizki Rio, menegaskan bahwa panas bumi merupakan pilar penting dalam percepatan transisi menuju energi bersih di tingkat nasional maupun global.
Menurut Yurizki, Asia saat ini menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, kebutuhan listrik terus meningkat. Di sisi lain, ketergantungan pada energi fosil masih mendominasi hingga 80 persen. Situasi ini membuat kawasan harus menaikkan investasi energi bersih secara signifikan. “Untuk mencapai target iklim, Asia Tenggara membutuhkan peningkatan investasi energi bersih hingga lima kali lipat menjadi sekitar 190 miliar dolar AS per tahun pada 2035,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Ia menjelaskan, transisi energi tidak dapat hanya mengandalkan penambahan kapasitas terbarukan. Sistem energi membutuhkan sumber yang stabil dan dapat diandalkan, sehingga panas bumi menjadi opsi strategis. Tidak bergantung pada cuaca seperti energi surya dan angin, panas bumi memberi suplai listrik yang konstan sepanjang waktu.
Menjawab Tantangan Trilema Energi
Keunggulan panas bumi juga dinilai mampu menjawab trilema energi, yakni keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan. Yurizki menilai keseimbangan ketiga aspek ini sangat penting untuk memastikan proses transisi energi berjalan stabil dan tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat maupun sektor industri.
“Panas bumi secara alami menjawab tiga elemen tersebut. Bersih, andal, dan jika dikelola dengan struktur pembiayaan yang tepat, dapat tetap terjangkau dalam jangka panjang,” ujarnya.
Pendanaan Jadi Isu Sentral
Meski potensinya besar, pengembangan panas bumi membutuhkan pendanaan yang tidak kecil. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa Asia-Pasifik perlu meningkatkan investasi energi bersih dari 770 miliar dolar AS menjadi lebih dari 2,3 triliun dolar AS per tahun pada 2030.
Situasi serupa terjadi di Indonesia. “Sektor energi membutuhkan pendanaan 20–25 miliar dolar AS per tahun. Khusus panas bumi, biaya eksplorasinya tinggi. Satu sumur produksi dapat menelan 5–6 juta dolar AS, sehingga investor cenderung berhati-hati,” jelas Yurizki.
Untuk itu, PGE memastikan proyek-proyeknya tetap bankable agar dapat menarik investasi internasional. Ia menyebut kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis, tidak hanya dalam pembiayaan, tetapi juga dalam transfer teknologi dan implementasi proyek.
Potensi Ekonomi dan Hilirisasi Panas Bumi
Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt atau 40 persen dari cadangan dunia. Namun, pemanfaatan baru mencapai 2,6 gigawatt. Yurizki menilai pengembangan panas bumi dapat memberikan dampak ekonomi signifikan, termasuk penciptaan lapangan kerja, penguatan industri pengeboran, serta multiplier effect mencapai 1,25 kali.
Selain listrik, pengembangan panas bumi membuka peluang hilirisasi seperti produksi hydrogen hijau dan ammonia hijau. PGE telah memulai langkah ini melalui peluncuran Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu pada 9 September lalu. Proyek tersebut merupakan bagian dari upaya membangun rantai produksi hidrogen hijau secara terintegrasi.
“Energi terbarukan tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan. Di Indonesia, pengembangan panas bumi akan memperkokoh rantai pasok domestik dan mendorong inovasi industri hijau,” ujar Yurizki.
Dengan cadangan besar yang dimiliki, PGE optimistis panas bumi dapat menjadi penggerak utama transformasi energi di Asia sekaligus membawa manfaat ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















