Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) menegaskan komitmennya sebagai tulang punggung transisi energi nasional dalam momentum satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Melalui perluasan pengelolaan panas bumi secara berkelanjutan, PGE memperkuat fondasi kedaulatan energi Indonesia.
Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, mengatakan arah kebijakan pemerintah yang menekankan kemandirian energi memberikan dorongan kuat bagi PGE untuk terus mengoptimalkan potensi panas bumi di berbagai wilayah Indonesia.
“PGE adalah tulang punggung transisi energi Indonesia. Dengan potensi panas bumi mencapai 24 gigawatt-sekitar 40 persen dari cadangan dunia-kami memiliki mandat besar untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan nyata bangsa,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Selasa (25/11/2025).
“Melalui pengelolaan yang bertanggung jawab, kami ingin memastikan energi bersih menjadi fondasi kedaulatan dan masa depan hijau Indonesia,” lanjut Julfi Hadi.
Capaian Strategis Tahun Pertama
Dalam setahun terakhir, PGE mencatat sejumlah pencapaian penting. Salah satunya adalah beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) di Muara Enim, Sumatera Selatan, yang menjadi tonggak kemajuan teknologi dan efisiensi pemanfaatan panas bumi nasional.
PGE juga mulai membangun PLTP Gunung Tiga 55 MW di Ulubelu, Lampung, sejak Agustus 2025. Proyek ini akan memperkuat sistem kelistrikan Sumatera dan menjadi langkah penting menuju target PGE mencapai kapasitas terpasang mandiri 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun, serta 1,8 GW pada 2033.
Dorong Inovasi Energi Bersih
Mendorong transisi menuju ekonomi hijau, PGE mengembangkan proyek Hidrogen Hijau melalui Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu. Proyek ini membangun rantai nilai hidrogen hijau dari produksi, distribusi hingga pemanfaatan, selaras dengan target Net Zero Emission 2060.
Dari aspek keberlanjutan, PGE menunjukkan kinerja unggul dengan masuk dalam daftar Top 50 ESG Global menurut Sustainalytics. PGE meraih skor risiko ESG 7,1 atau kategori negligible risk.
Selain itu, perusahaan telah mengoleksi 18 penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, termasuk 14 kali berturut-turut yang diraih PGE Area Kamojang—rekor tertinggi di sektor panas bumi Indonesia.
Sebagai perusahaan energi hijau berkelas dunia, PGE turut memperluas program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan langsung panas bumi (Direct Use Geothermal).
Program ini mencakup pengeringan kopi melalui Geothermal Dry House, budidaya melon geothermal, hingga produksi pupuk Geo-fert yang dikeringkan menggunakan sisa uap panas bumi. Inisiatif tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam ekosistem energi bersih.
Kapasitas dan Kontribusi Nasional
Saat ini PGE mengelola kapasitas panas bumi sebesar 1.932 MW, terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung dan 1.205 MW melalui skema Joint Operation Contract bersama mitra strategis. Energi bersih yang dihasilkan mampu memasok listrik lebih dari dua juta rumah tangga serta menurunkan emisi karbon hingga 10 juta ton CO₂ per tahun.
Melalui langkah-langkah tersebut, PGE menegaskan posisinya sebagai pilar utama transisi energi dan penggerak kedaulatan energi nasional di era pemerintahan Prabowo-Gibran.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















