Berita Geothermal — Arab Saudi, negara kaya minyak dengan cadangan energi fosil melimpah, kini mulai berhemat dalam penggunaan listrik. Demi efisiensi dan keberlanjutan, kerajaan ini mulai melirik panas bumi (geothermal) sebagai sumber utama sistem pendingin bangunan di wilayahnya.
Strataphy, sebuah startup inovatif yang bergerak di bidang teknologi pendinginan berbasis panas bumi, baru-baru ini mengumumkan keberhasilan mereka dalam menyelesaikan sejumlah pengeboran dan pengujian sumur panas bumi di wilayah barat dan barat laut Arab Saudi.
Langkah ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat penerapan sistem pendingin panas bumi yang tidak hanya efisien secara energi, tetapi juga ramah lingkungan—solusi yang sangat relevan mengingat tingginya kebutuhan pendinginan di negara dengan iklim panas ekstrem ini.
Potensi Panas Bumi yang Menjanjikan
Melalui lebih dari 25 pengeboran sumur pada kedalaman hingga 250 meter dan berbagai pengujian, termasuk Thermal Response Test (TRT), sistem Open-Loop, serta uji penyimpanan energi termal di akuifer (ATES), Strataphy menemukan bahwa reservoir geothermal dangkal di Saudi menunjukkan performa luar biasa.
Dengan nilai Coefficient of Performance (COP) di atas 5,5, sistem pendingin terbuka ini terbukti jauh lebih efisien dibandingkan teknologi konvensional berbasis udara. Nilai konduktivitas dan difusivitas termal tanah yang tinggi juga mendukung efisiensi transfer panas dan penyimpanan energi musiman.
Menurut Ahmed Alhani, Chief Operating Officer (COO) Strataphy, momentum untuk mengadopsi energi panas bumi di Arab Saudi kini semakin kuat.
“Kami bangga menjadi pelopor dalam menghadirkan solusi pendinginan yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan bagi wilayah ini,” ujar Alhani.
Menjawab Tantangan Pendinginan Nasional
Arab Saudi tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi listrik untuk pendinginan tertinggi di dunia, mencapai 50–70% dari total penggunaan energi. Hal ini disebabkan oleh urbanisasi masif dan proyek konstruksi besar-besaran di berbagai kota.
Sayangnya, sistem pendingin yang digunakan mayoritas masih bergantung pada energi berbasis fosil yang berdampak besar terhadap emisi karbon.
Dengan mengadopsi sistem pendingin geothermal, Arab Saudi berpotensi meraih berbagai manfaat strategis, antara lain:
• Mengurangi konsumsi listrik hingga 50%;
• Menghindari biaya besar untuk ekspansi jaringan listrik;
• Menstabilkan pasokan energi nasional di musim panas;
• Menekan emisi karbon secara signifikan;
• Meningkatkan ketahanan energi jangka panjang.
CEO Strataphy, Ammar Alali, menyatakan bahwa geothermal bukan sekadar teknologi alternatif, melainkan fondasi transformasi energi ke depan.
“Kami tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tapi membangun ekosistem yang lebih efisien, rendah emisi, dan tahan terhadap krisis energi,” jelas Alali.
Dari Eksplorasi ke Implementasi
Setelah menyelesaikan fase riset dan uji coba, Strataphy kini bergerak ke tahap implementasi nyata. Proyek pendingin geothermal pertama berskala industri dijadwalkan mulai beroperasi sebelum akhir tahun ini—menandai tonggak sejarah dalam sektor energi Saudi.
Dua proyek tambahan akan dimulai pada musim panas 2025. Secara keseluruhan, Strataphy menargetkan pemasangan lebih dari 50 megawatt termal (MW-th) kapasitas pendinginan dalam lima tahun ke depan. Langkah ini diharapkan mempercepat transisi Arab Saudi menuju sistem pendinginan yang hemat energi, berbiaya rendah, dan lebih ramah lingkungan.***
Sumber: ThinkGeoEnergy
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















