Jakarta, Beritageothermal.com – Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia berpotensi semakin cepat berkembang seiring kemajuan riset hidrogeokimia yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Teknologi ini dinilai mampu membantu mengungkap karakteristik sistem panas bumi secara lebih akurat, sehingga mempercepat proses eksplorasi dan pengembangan energi terbarukan.
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan, mengatakan hidrogeokimia menjadi salah satu pendekatan ilmiah penting untuk memahami asal-usul, karakteristik, dan pergerakan fluida dalam sistem panas bumi.
Menurut dia, pemahaman tersebut dapat mendukung identifikasi potensi sumber daya panas bumi yang memiliki peluang dikembangkan sebagai pembangkit listrik maupun pemanfaatan langsung untuk kebutuhan industri dan masyarakat.
“Riset ini juga untuk mempercepat pemanfaatan panas bumi melalui pemahaman karakteristik dan genesa sistem fluida panas bumi berpotensi untuk energi listrik atau pemanfaatan langsung panas bumi,” kata Iwan dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).
Indonesia diketahui memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia. Namun, pengembangan sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya eksplorasi hingga kebutuhan data geologi yang akurat untuk mengurangi risiko investasi.
Dalam konteks tersebut, riset hidrogeokimia menjadi instrumen penting karena mampu memberikan gambaran mengenai kondisi bawah permukaan, termasuk interaksi antara air, batuan, dan unsur-unsur kimia yang membentuk sistem panas bumi.
Selain hidrogeokimia, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan gas radon sebagai salah satu indikator dalam eksplorasi panas bumi. Gas radioaktif alami tersebut dapat membantu mengidentifikasi struktur geologi dan sistem rekahan yang menjadi jalur keluarnya panas dari dalam bumi.
Iwan menjelaskan, anomali konsentrasi gas radon yang tinggi dapat digunakan untuk memetakan zona-zona yang berhubungan dengan sumber panas pada sistem panas bumi vulkanik maupun nonvulkanik.
“Aplikasi Radon berpotensi untuk eksplorasi panas bumi, dengan cara memanfaatkan anomali konsentrasi gas radon tinggi, yang digunakan untuk pemetaan struktur geologi atau sistem rekahan yang berhubungan dengan sumber panas pada sistem panas bumi vulkanik dan non vulkanik,” ujarnya.
Menurut Iwan, pengembangan teknologi geokimia modern perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara peneliti, akademisi, praktisi, dan industri. Pemanfaatan teknologi berbasis Internet of Things (IoT), machine learning, hingga sistem pemantauan real-time dinilai dapat meningkatkan akurasi data eksplorasi sekaligus mempercepat pengembangan energi panas bumi nasional.
Selain mendukung sektor energi, hasil riset geokimia juga dapat dimanfaatkan sebagai basis data dalam penyusunan kebijakan tata ruang, perlindungan lingkungan, hingga mitigasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Di tengah upaya pemerintah meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan, riset hidrogeokimia menjadi salah satu instrumen strategis untuk membuka potensi panas bumi Indonesia secara lebih optimal. Dengan dukungan teknologi dan data yang semakin akurat, panas bumi diharapkan dapat menjadi salah satu tulang punggung transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















