Jakarta, Berita Geothermal – Peneliti Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam pengembangan pusat data (data center) di kawasan Asia Tenggara melalui pemanfaatan energi terbarukan, terutama panas bumi. Namun ia menekankan, peluang itu belum dapat dimaksimalkan karena sejumlah hambatan regulasi dan tingginya biaya eksplorasi geotermal.
“Secara teknologi dan keekonomian, energi terbarukan termasuk geotermal bisa lebih murah dibandingkan PLTU. Tantangannya bukan pada teknologinya, tetapi pada kebijakan yang masih menguntungkan PLTU melalui skema seperti DMO batu bara,” ujar Deon dalam media briefing di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Kebijakan Negara Tetangga Lebih Akomodatif
Deon menyebut Malaysia dan Vietnam sebagai contoh negara yang lebih progresif dalam menarik investor data center. Akses langsung pada jaringan listrik berbasis energi bersih membuat kedua negara itu lebih kompetitif.
“Di Indonesia regulasinya sudah ada, tetapi belum diimplementasikan sehingga masih menghambat investor,” katanya.
Permintaan energi bersih untuk pusat data diprediksi akan melonjak tajam. Deon menilai geotermal merupakan pilihan yang menjanjikan karena mampu memasok listrik stabil sepanjang hari tanpa terganggu kondisi cuaca.
Walau biaya eksplorasi dan pembangunan pembangkit geotermal tergolong tinggi, ia menekankan bahwa harga listrik akan lebih bersaing jika risiko awal ditanggung melalui kebijakan pemerintah. “Energi panas bumi konsisten dan tidak intermiten seperti PLTS,” jelasnya.
Dorongan untuk Tidak Kehilangan Momentum
Deon mengingatkan bahwa Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak kembali tertinggal dalam perkembangan ekonomi berbasis energi bersih.
“Ini momentum strategis. Kita bicara kebutuhan energi hingga 2045. Jika ingin menjadi hub data center Asia Tenggara, energi bersih terutama geothermal harus jadi prioritas,” ujarnya.
Pertumbuhan Kebutuhan Data Center Capai Dua Digit
Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Mira Tayyiba, dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa proyeksi Bank Dunia menunjukkan pertumbuhan permintaan pusat data Indonesia dapat mencapai 16,8 persen per tahun. Operator pusat data pun disebut tengah menargetkan penggunaan energi bersih secara penuh pada 2030.
Sementara itu, kajian yang dilakukan CSIS, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Tenggara Strategics, UMBRA, dan Universitas Prasetiya Mulya mengidentifikasi lima lokasi yang paling potensial untuk pengembangan pusat data berbasis energi hijau: Sumatera Utara, Batam, Jakarta, Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Sulawesi Utara. Kelimanya dinilai unggul karena memiliki akses ke jaringan internet regional serta potensi energi surya, angin, air, biomassa, hingga geotermal.
Indonesia Masih Kalah Kapasitas dari Malaysia dan Singapura
Di tengah pertumbuhan kebutuhan digital, kapasitas pusat data Indonesia masih tertinggal dari negara lain di kawasan. Saat ini kapasitas nasional baru sekitar 456 MW, jauh di bawah Malaysia (1.218 MW) dan Singapura (1.022 MW), meskipun Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















