Berita Geothermal — Di balik kesunyian pegunungan dan kedalaman bumi Indonesia yang menyimpan potensi panas luar biasa, terdapat nama-nama yang berperan besar namun jarang terdengar. Salah satunya adalah Abilati Monikha Wulandari, seorang drilling engineer berpengalaman yang kini aktif mengawal pengembangan energi panas bumi—sumber energi masa depan yang bersih, berkelanjutan, dan melimpah di Tanah Air.
Wanita hebat lulusan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta ini telah menapaki karier profesional di sektor energi selama lebih dari satu dekade. Dengan pengalaman 12 tahun di industri minyak dan gas, Monikha telah mendalami berbagai aspek pengeboran, mulai dari perencanaan teknik hingga pelaksanaan surveilans pengeboran dan penyelesaian sumur.
Keahliannya dalam memahami peralatan pengeboran, penyelesaian, hingga kontrol sumur menjadikannya sosok yang diandalkan, baik di lapangan maupun dalam forum strategis.
Kariernya dimulai dari peran sebagai Senior Technical Professional – Testing and Sub Sea di Halliburton pada tahun 2005 hingga 2012. Di sana, ia bahkan sempat menangani proyek pengeboran hingga kedalaman nyaris 6.000 meter—sebuah capaian teknis yang menguji presisi, keberanian, dan ketahanan.
Kini, sejak September 2023, ia bergabung dengan Arka Data, sebuah langkah baru untuk meneruskan kontribusinya di bidang panas bumi, khususnya dari perspektif teknologi dan optimalisasi pengeboran.
Monikha tak hanya dikenal di dalam negeri. Pada IADC Geothermal Drilling Conference & Exhibition yang digelar Maret lalu di Wina, Austria, ia mewakili Jakarta Drilling Society untuk menyampaikan wawasan tentang tantangan dan peluang pengeboran panas bumi di Indonesia—negara yang disebut sebagai salah satu pusat pengembangan panas bumi bersuhu tinggi terbesar di dunia.
Di forum internasional tersebut, Monikha menegaskan pentingnya drilling optimization dalam menekan biaya pengeboran—yang notabene merupakan pos pengeluaran terbesar kedua dalam proyek panas bumi setelah pembangunan fasilitas permukaan.
“Setiap peningkatan efisiensi dalam pengeboran akan berdampak langsung terhadap kelayakan ekonomi proyek secara keseluruhan,” ujarnya saat diwawancarai oleh thinkgeoenergy, dikutip Minggu (18/5).
Tak hanya menyoroti efisiensi, Monikha juga mendorong adopsi teknologi baru. Ia menekankan perlunya inovasi pada peralatan bawah tanah (downhole tools) yang tahan terhadap suhu tinggi dan kondisi abrasi khas lingkungan panas bumi.
Monikha juga menaruh perhatian besar pada pengembangan elastomer untuk well control equipment agar tetap andal di medan ekstrem. Secara khusus, Monikha juga tertarik pada pengembangan sistem panas bumi tertutup (closed-loop systems) di Indonesia yang dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi memperluas pemanfaatan energi panas bumi.
Kiprahnya di dalam negeri pun tak kalah penting. Ia kerap hadir dalam berbagai forum nasional, mulai dari kampus-kampus seperti ITB hingga institusi seperti Supreme Energy. Ia tampil sebagai narasumber, mentor, sekaligus penghubung antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan.
Bagi Monikha, tantangan sektor panas bumi tak hanya bersifat teknis. Ia percaya industri pengeboran memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan publik, memengaruhi kebijakan, serta menarik investasi melalui praktik pengeboran yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Ia juga menyuarakan harapan agar lebih banyak proyek panas bumi dikembangkan di wilayah timur Indonesia yang menyimpan potensi besar namun belum tergarap optimal. Menurutnya, pengembangan di sana bukan hanya soal energi, tetapi juga kontribusi nyata bagi pemerataan pembangunan nasional.
Namun di balik dunia kerjanya yang boleh dibilang ekstrim dan maskulin, Monikha tetap menunjukkan sisi lembutnya sebagai perempuan. Lihat saja akun Instagramnya, ia kerap membagikan momen saat-saat ia mengenakan gaun kebaya dengan pernik cantik di rambutnya.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















