Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang mengembangkan pendekatan baru dalam pemanfaatan energi panas bumi melalui program bertajuk Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for All’s Harmony (Kanyaah). Program ini tak hanya berfokus pada energi, tetapi juga menyasar penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Berada di kawasan dataran tinggi, Kamojang menghadapi tantangan iklim yang tidak sederhana. Suhu udara yang rendah dan kerap berubah-ubah membuat sektor pertanian dan perikanan sulit berkembang optimal.
Kondisi air yang dingin, misalnya, menyebabkan pertumbuhan ikan melambat karena metabolisme yang tidak maksimal. Di sisi lain, petani masih mengandalkan metode tradisional dengan dukungan sarana produksi yang terbatas, termasuk pupuk berkualitas.
Masalah lain muncul saat pascapanen. Proses pengeringan hasil pertanian yang bergantung pada cuaca kerap berujung pada penurunan kualitas. Tingginya kelembapan udara di Kamojang memperbesar risiko kehilangan hasil panen.
Melihat persoalan tersebut, PGE Kamojang menghadirkan solusi berbasis energi panas bumi yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui program Kanyaah, panas bumi diolah menjadi berbagai inovasi untuk menunjang sektor pertanian, perikanan, hingga pengolahan pangan.
Pada tahap awal, program ini berhasil mengoptimalkan lahan seluas 12,34 hektare. Dari pengelolaan tersebut, dihasilkan 193,8 ton pupuk GeO-Fert serta pemanfaatan limbah organik mencapai 230 ton per tahun.
Di sektor pertanian, konsep geothermal farming diterapkan dengan memanfaatkan pupuk organik dan material limbah non-B3 sebagai media tanam. Hasilnya cukup signifikan, dengan produksi 35.310 bibit dan total panen mencapai 30 ton.
Komoditas kopi menjadi salah satu unggulan yang berhasil menembus pasar internasional. Tercatat sekitar 20 ton kopi dari Kamojang telah diekspor ke Jepang, Jerman, dan Afrika.
Tak berhenti di budidaya, PGE juga mengembangkan pengolahan hasil panen melalui inovasi Geothermal Foodies. Teknologi Geothermal Dehydrator memungkinkan proses pengeringan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan cara konvensional.
Jika sebelumnya pengeringan pupuk membutuhkan waktu hingga dua pekan, kini hanya memakan waktu sekitar 12 jam. Sementara hasil pertanian dapat dikeringkan dalam waktu 5 jam dari sebelumnya sekitar 7 hari.
Efisiensi ini berdampak langsung pada pengurangan kehilangan hasil panen. Sebanyak 1.085 kilogram produk yang sebelumnya berpotensi terbuang kini dapat diolah menjadi makanan siap konsumsi. Total 5.500 produk berhasil dipasarkan.
Sementara itu, di sektor perikanan, teknologi Geothermal Heater dimanfaatkan untuk menjaga suhu air kolam tetap stabil. Hasilnya, pertumbuhan ikan meningkat signifikan dengan tambahan bobot hingga 330 gram per ekor dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 85-90%.
Program ini juga memberikan dampak sosial yang luas. Sebanyak 2.111 masyarakat dari berbagai kelompok rentan ikut merasakan manfaatnya, mulai dari petani, pemuda, hingga masyarakat adat.
Dari sisi lingkungan, kontribusi program ini juga cukup besar. Emisi karbon berhasil ditekan hingga 146,283 tCO2e per tahun. Selain itu, lebih dari 232,424 ton sampah organik dan 18,2 ton sampah anorganik berhasil dikelola.
Atas capaian tersebut, PGE Area Kamojang meraih penghargaan PROPER 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan peringkat Emas.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Ahmad Yani, menyebut capaian ini merupakan hasil kerja berkelanjutan perusahaan bersama para pemangku kepentingan.
“Inilah basis ekonomi sekuler yang kami luncurkan di dalam program proper ini itu bagaimana memanfaatkan energi geothermal untuk pemberdayaan masyarakat. Inilah berbagai macam kegiatan yang secara terintegrasi ya seperti di area Kamojang itu Kanyaah (Kamojang Agri-Aquaculture, Energized by Geothermal for All’s Harmony),” ungkap Ahmad Yani kepada CNBC Indonesia di sela acara Anugerah Lingkungan PROPER di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebagai catatan, PROPER telah berjalan selama lebih dari 30 tahun sebagai instrumen pemerintah dalam mendorong perusahaan menjaga kinerja lingkungan sekaligus meningkatkan tata kelola berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















