Berita Geothermal –Dalam dunia energi yang tengah berpacu menuju dekarbonisasi, nama Suroso Isnandar mencuat sebagai sosok kunci di balik transisi hijau PT PLN (Persero).
Suroso Isnandar ditunjuk sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero) dalam RUPS Selasa, 18 Juni 2025 lalu.
Dengan jabatan itu, Suroso Isnandar membawa visi besar dan tanggung jawab untuk mendorong pemanfaatan energi bersih, termasuk pembangkit panas bumi, guna mendukung capaian ambisius Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Suroso bukan sosok baru dalam peta besar transformasi PLN. Komitmennya pada energi hijau telah tampak jauh sebelum ia menduduki jabatan barunya.
Saat masih menjabat sebagai Direktur Manajemen Risiko, ia kerap menyuarakan pentingnya pembangkit EBT sebagai tulang punggung Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Dalam berbagai forum strategis seperti media gathering bertema The Future: Strategi Hijau untuk Akselerasi Net Zero Emissions 2024 lalu, Suroso menegaskan bahwa arah PLN sangat jelas: mempercepat transisi energi melalui investasi besar-besaran di sektor energi bersih.
Salah satu tanggung jawab penting yang kini berada di pundaknya adalah realisasi RUPTL 2025–2034, di mana 70 persen porsi pembangkit berasal dari EBT, dengan 5,2 GW panas bumi.
Target ini tentu tidak datang dari ruang kosong. Sejak RUPTL 2021–2030, PLN telah mengusung rencana paling hijau dalam sejarah perusahaan, dengan 21 GW pembangkit EBT yang dirancang untuk dibangun hingga 2030. Untuk mendorongnya, Suroso juga terlibat aktif dalam mengawal program Accelerated Renewable Energy Development (ARED)—inisiatif bersama Pemerintah yang fokus pada coal phase down, yaitu pengurangan bertahap ketergantungan terhadap PLTU berbasis batu bara.
“PLTU tidak langsung disuntik mati. Itu namanya coal phase out. Tapi kita lakukan coal phase down, bertahap dikurangi agar tetap menjaga keandalan sistem,” jelas Suroso dalam media gathering tersebut.
Kini, di bawah kepemimpinannya, berbagai proyek panas bumi tengah dikebut, salah satunya proyek PLTP di Flores yang menjadi prioritas jangka pendek.
Akademisi unggul
Tak hanya piawai di bidang manajerial, Suroso juga seorang akademisi unggul. Maret lalu, ia meraih gelar doktor cum laude dari Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat disertasi bertajuk Pendekatan Multiparadigma Berbasis Fuzzy Cognitive Multi Agent System (FC-MAS) pada Model Bisnis Pasar Kelistrikan Non-Kompetitif dan Regulasi Ketat dengan Integrasi Pembangkit Variable Renewable Energy.
Disertasi ini menggambarkan pemikirannya yang mendalam soal bagaimana pengelolaan sistem kelistrikan modern bisa dilakukan secara adaptif dan berbasis kecerdasan buatan.
Lahir di Klaten, 12 Agustus 1971, Suroso menempuh pendidikan sarjana Teknik Listrik di ITB (1994), lalu melanjutkan gelar Master di University of Abertay, Inggris (1999), dengan spesialisasi Power System Engineering and Management.
Kariernya di PLN ditempa lewat berbagai posisi strategis, mulai dari General Manager di Unit Pembangkitan Sulawesi hingga Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi di Kantor Pusat.
Kini, di tengah tantangan besar perubahan iklim dan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, Suroso Isnandar bertanggung jawab mendorong realisasi pembangkit panas bumi 5,2 GW dan mengawal 70 persen EBT dalam RUPTL 2025–2034..***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















