Garut, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk Area Kamojang menegaskan peran strategis energi panas bumi dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional. Hal itu disampaikan dalam Workshop Program Pascasarjana Universitas Garut (Uniga), Rabu (15/4/2026).
Workshop bertajuk “Penguatan dan Pengembangan Ekonomi Berbasis Alam untuk Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Garut” tersebut menyoroti pentingnya pendekatan terintegrasi dalam pengembangan panas bumi, mencakup tata kelola kawasan, aspek energi, serta distribusi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
General Manager PGE Kamojang, I Made Budi Kesuma AP, hadir sebagai pemateri, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih belum optimal.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih relatif kecil. Ini menjadi peluang strategis untuk mendorong energi bersih dan mencapai target net zero emission,” ujar I Made.
Ia menjelaskan, energi panas bumi memiliki keunggulan sebagai baseload yang stabil dan rendah emisi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan listrik secara berkelanjutan, terutama di wilayah dengan permintaan tinggi.
Selain itu, pengembangan geothermal juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan sumber pendapatan hijau baru serta penguatan kemandirian energi nasional.
Dalam paparannya, I Made juga menyoroti peran panas bumi dalam mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto di sektor ketenagalistrikan, khususnya dalam mendorong transisi energi, memperkuat ketahanan energi, dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, I Made menjelaskan, pengembangan panas bumi sejalan dengan agenda besar nasional, mulai dari swasembada hingga ketahanan energi.
“Panas bumi berperan penting dalam mendorong Indonesia swasembada energi, yakni kemampuan memenuhi kebutuhan energi secara mandiri tanpa bergantung pada impor,” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, dalam konteks transisi energi, geothermal dinilai sebagai sumber energi baseload yang rendah emisi, andal, serta umumnya berada dekat dengan pusat permintaan energi, sehingga efisien untuk dikembangkan.
Dari sisi ekonomi, pengembangan panas bumi juga diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan PDB nasional. Indonesia yang memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan hijau baru, sekaligus menghadirkan solusi energi off-grid bagi wilayah terpencil.
Tak hanya itu, panas bumi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, karena mampu menggantikan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil melalui pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.
Menurutnya, panas bumi dapat menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional menggantikan ketergantungan pada energi fosil, sekaligus memperluas akses energi hingga ke wilayah terpencil melalui solusi off-grid.
“Panas bumi bukan hanya energi bersih, tetapi juga fondasi penting untuk ketahanan energi dan penggerak pertumbuhan ekonomi, termasuk dalam mendukung target peningkatan PDB nasional,” jelasnya.
PGE Kamojang saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 235 megawatt (MW) dan berkontribusi pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali). Operasionalnya mampu menekan emisi hingga sekitar 1,22 juta ton CO2e per tahun serta menyuplai listrik bagi sekitar 260 ribu rumah tangga.
Selain itu, perusahaan juga menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (HSSE) serta program pemberdayaan masyarakat berbasis energi geothermal sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Workshop dihadiri Manager HSSE PGE Kamojang Hendrik Kurniawan Sinaga, Bagus Dimas Wibisono dari Tim Corporate Secretary PT PGE Tbk, dan Ovinda Hariyesa, JR Officer 1 Government & Public Relations PGE Area Kamojang.
Turut Hadir perwakilan Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Indonesia (ADPPI), Bappeda Kabupaten Garut, Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLKK) Kementerian Kehutanan, Kementerian ESDM, dan tamu undangan lainnya.
Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi dan industri dalam memperkuat pengembangan energi baru terbarukan, sekaligus meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap potensi panas bumi di Indonesia.
Menutup paparannya, I Made menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi geothermal di Tanah Air.
“Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi panas bumi sebagai tulang punggung energi bersih Indonesia ke depan,” pungkasnya.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















