Berita Geotherma – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha Jawa Barat milik PT Geo Dipa Energi (Persero) tidak hanya menghasilkan listrik 55 MW untuk jaringan nasional. Di balik produksi tersebut, tersisa sekitar 25 MW energi panas bumi (thermal) yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat, padahal bisa dimanfaatkan langsung untuk berbagai kebutuhan produktif masyarakat.
Hal inilah yang kini sedang gencar disosialisasikan oleh PT Geo Dipa Energi Patuha kepada berbagai stakeholder termasuk Pemerintah Kabupaten Bandung. Tujuannya agar sisa produksi bisa bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai sektor kehidupan dalam bentuk pemanfaatan langsung panas bumi.
“Setiap 55 MW listrik yang dihasilkan PLTP Patuha masih menyisakan 25 MW thermal yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya, masyarakat melewati pipa-pipa panas bumi setiap hari tanpa tahu bahwa di dalamnya ada energi besar yang dapat menunjang kehidupan mereka,” jelas General Manager Geo Dipa Energi Unit Patuha, Ruly Husnie Ridwan, dikutip Senin (16/9).
Menurut Ruly, kegelisahan itu mendorong Geo Dipa membangun KaDieu (Kampung Direct Use) di Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.
KaDieu berfungsi sebagai laboratorium pemanfaatan langsung panas bumi, menampilkan contoh konkret pemanfaatan sisa energi thermal, mulai dari greenhouse untuk pertanian, kolam ikan dengan suhu stabil, hingga food dehydrator untuk mengawetkan hasil panen.
Genny M. Yudawinata, Finance Manager Geo Dipa Patuha, menjelaskan, Geo Dipa menghadirkan tiga proyek percontohan di KaDieu.
Pertama, greenhouse dengan kapasitas 160 pohon tomat yang memanfaatkan panas bumi sebagai pengatur suhu, sehingga tanaman dapat tumbuh optimal sepanjang tahun.
Kedua, kolam ikan berkapasitas 200 ekor dengan suhu air stabil berkat energi panas bumi, menciptakan lingkungan budidaya yang lebih efisien.
Ketiga, food dehydrator skala kecil yang digunakan untuk mengawetkan hasil panen secara higienis, sehat, dan ramah lingkungan.
Sejumlah akademisi mendukung langkah inovatif ini. Ali Ashat, pakar panas bumi ITB, menegaskan bahwa pemanfaatan panas bumi untuk perikanan sangat vital, terutama di daerah dingin seperti di kawasan PLTP Patuha.
“Ikan membutuhkan suhu air 26–30 derajat Celsius untuk tumbuh optimal. Panas bumi bisa menjaga kestabilan suhu kolam, sehingga produktivitas perikanan meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman, MSME, menyoroti manfaat food dehydrator. Menurutnya, alat ini mampu memperpanjang masa simpan hasil pertanian, seperti stroberi, yang biasanya hanya bertahan beberapa hari sebelum busuk.
“Dengan teknologi ini, produk bisa lebih tahan lama dan bernilai tambah,” katanya.
Melalui KaDieu, Geo Dipa Patuha menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya mengalir ke jaringan listrik, tetapi juga ke denyut kehidupan masyarakat. Inovasi ini membuka jalan bagi energi bersih untuk berpadu dengan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan di masa depan.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















