Maumere, Beritageothermal.com – Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Pri Utami, mengingatkan bahwa pengembangan energi panas bumi (geotermal) di Flores dan Lembata harus dilakukan dengan memperhatikan daya dukung geologi serta kondisi lingkungan setempat. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam tidak boleh melampaui kemampuan alam untuk menopangnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Pri Utami dalam Forum Geotermal Flores-Lembata yang digelar di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, 23 Juli 2026. Forum tersebut menghadirkan pemerintah, PLN, akademisi, pengembang, tokoh Gereja, JPIC, hingga perwakilan masyarakat yang selama ini menyoroti proyek panas bumi di Flores dan Lembata.
Dalam paparannya, Pri menegaskan bahwa setiap wilayah memiliki kapasitas geologi yang terbatas sehingga pengelolaan energi harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
“Daya dukung alam, daya dukung geologi itu sangat terbatas, sementara kemauan manusia tidak terbatas,” kata Pri Utami.
Menurutnya, pemahaman mengenai geologi harus dimiliki tidak hanya oleh para ilmuwan, tetapi juga pemerintah, pengembang proyek, hingga masyarakat. Dengan memahami karakteristik wilayahnya, masyarakat akan lebih mampu membaca potensi sumber daya sekaligus memahami penyebab berbagai fenomena alam seperti gempa bumi, tanah longsor maupun tsunami.
Edukasi Geologi Dinilai Penting bagi Masyarakat
Pri mengatakan para ahli geosains memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman ilmiah kepada para pemangku kepentingan. Namun, edukasi mengenai kondisi geologi seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.
Ia menilai masyarakat perlu mengetahui kondisi tanah, potensi energi, sumber daya air, hingga ancaman bencana di wilayah tempat tinggalnya agar tidak mudah panik ketika menghadapi fenomena alam.
Selain itu, Pri juga menyoroti pentingnya pengelolaan air, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air seperti Flores dan Lembata.
Menurutnya, konsep water sensitive city dan neraca air perlu diterapkan agar masyarakat mampu mengelola ketersediaan air saat musim kemarau maupun musim hujan.
“Kalau lagi tidak ada hujan, jangan sampai saya tidak minum. Kalau lagi hujan lebat, jangan sampai saya kena banjir,” ujarnya.
Pri Utami Luruskan Pemahaman soal Geotermal dan Gunung Api
Dalam forum tersebut, Pri juga meluruskan anggapan bahwa seluruh proyek panas bumi berada di gunung api yang masih aktif.
Ia menjelaskan panas bumi berasal dari energi panas di dalam bumi, sedangkan manifestasinya dapat muncul melalui mata air panas, fumarol maupun kolam lumpur panas.
Menurutnya, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) umumnya dikembangkan pada sistem vulkanik hidrotermal yang secara historis tidak lagi aktif, meski masih memiliki manifestasi panas bumi.
Pri menambahkan, tidak semua sumber panas bumi berada di kawasan gunung api.
“Siapa yang bilang kita tidak ada energi? Ada,” katanya.
Ia menjelaskan teknologi panas bumi konvensional saat ini telah berkembang di berbagai wilayah Indonesia, sementara Lapangan Panas Bumi Sokoria menjadi salah satu contoh penerapan teknologi sistem biner.
Pri Utami Jawab Kekhawatiran soal Gempa akibat Geotermal
Isu gempa bumi menjadi salah satu perhatian utama dalam forum. Sejumlah peserta mengaitkan proyek panas bumi dengan kasus gempa di Pohang, Korea Selatan.
Menanggapi hal tersebut, Pri menegaskan kondisi geologi Pohang sangat berbeda dengan sistem panas bumi yang berkembang di Indonesia.
Menurutnya, proyek di Pohang menggunakan teknologi panas bumi buatan (Enhanced Geothermal System/EGS) karena wilayah tersebut tidak memiliki sistem hidrotermal alami berupa air panas atau uap panas.
“Di Pohang itu mereka tidak punya sistem vulkanik hidrotermal yang secara nature punya air panas atau uap panas, tetapi mereka akan membuat suatu sistem panas bumi buatan,” jelasnya.
Pri mengatakan Indonesia justru memiliki sistem panas bumi alami sehingga metode pengembangannya berbeda.
Ia juga menjelaskan bahwa wilayah Pohang berada di zona reaktivasi patahan gempa, sedangkan aktivitas gempa di lapangan panas bumi Indonesia umumnya berupa mikroseismisitas yang tidak selalu berkaitan langsung dengan keberadaan sumur panas bumi.
Emisi PLTP Lebih Rendah Dibanding Pembangkit Batu Bara
Pri turut menjelaskan mengenai bau belerang yang sering dikeluhkan masyarakat di sekitar kawasan manifestasi panas bumi.
Menurutnya, bau tersebut berasal dari gas alami yang keluar dari sistem panas bumi sehingga pengaturan lingkungan, termasuk penentuan jarak aman dari area fumarol, menjadi bagian penting dalam pengelolaan proyek.
Ia juga membandingkan emisi pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan pembangkit berbahan bakar fosil.
Menurut Pri, emisi karbon dioksida dari PLTP jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara, minyak maupun gas. Selain itu, pembangkit panas bumi juga tidak menghasilkan abu terbang sebagaimana pembangkit batu bara.
Meski demikian, ia menegaskan pengembangan energi baru terbarukan tetap harus dibarengi dengan pengelolaan lingkungan yang baik serta keterbukaan kepada masyarakat.
Pri Utami: Pengembangan Geotermal Harus Dibarengi Pemahaman Publik
Forum Geotermal Flores-Lembata digelar setelah muncul berbagai kekhawatiran masyarakat mengenai dampak proyek panas bumi, mulai dari potensi gempa, tanah longsor, keterbatasan air, bau gas belerang, hingga pengalaman warga di Mataloko, Ulumbu, Sokoria dan Atadei.
Melalui forum tersebut, Pri berharap diskusi mengenai energi panas bumi tidak hanya didasarkan pada persepsi, tetapi juga pada kajian ilmiah yang komprehensif. Menurutnya, pemahaman publik menjadi kunci agar pengembangan geotermal dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta pemanfaatan energi bersih bagi masa depan Indonesia.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















