Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan energi panas bumi sebagai salah satu sumber listrik baseload Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mendukung kebutuhan data center dan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia.
Panas bumi dinilai memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan industri data center karena mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil dan berkelanjutan selama 24 jam, sekaligus menghasilkan energi yang lebih bersih.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan kebutuhan listrik data center dan AI factory memiliki karakteristik khusus.
Selain membutuhkan pasokan yang andal sepanjang waktu, fasilitas tersebut juga membutuhkan sumber energi yang mendukung target keberlanjutan.
“Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan resmi PGE, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Menurut dia, kebutuhan pasokan listrik yang berlangsung terus-menerus menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah sumber EBT yang bersifat intermiten atau bergantung pada kondisi alam.
Karakteristik panas bumi sebagai sumber listrik baseload memungkinkan pembangkit beroperasi secara berkelanjutan. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi keunggulan dalam memenuhi kebutuhan energi fasilitas digital yang membutuhkan tingkat keandalan listrik tinggi.
PGE Kembangkan Green Data Center di Kamojang
Untuk mengembangkan pemanfaatan panas bumi bagi sektor digital, PGE telah memulai kajian elektrifikasi green data center menggunakan energi panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat.
Kajian tersebut disiapkan sebagai proyek percontohan sekaligus proof of concept untuk menguji model bisnis dan memetakan kebutuhan calon pengguna data center.
Pengembangan proyek ini juga diarahkan untuk membangun pasar baru bagi pemanfaatan listrik panas bumi. Dengan demikian, PGE tidak hanya menyiapkan sisi pasokan energi, tetapi juga berupaya mempertemukan kebutuhan listrik industri data center dengan kapasitas panas bumi yang tersedia.
Empat Langkah Perkuat Data Center Berbasis EBT
PGE menilai pengembangan data center berbasis EBT membutuhkan dukungan dari berbagai aspek, mulai dari regulasi hingga perencanaan infrastruktur.
Pertama, regulasi tarif listrik perlu disempurnakan agar lebih kompetitif, transparan, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
Kedua, pemanfaatan insentif fiskal dan skema green financing perlu diperluas guna mendukung pembiayaan proyek energi bersih.
Ketiga, sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan listrik, Power Purchase Agreement (PPA), hingga target Commercial Operation Date (COD) perlu diperkuat.
Keempat, strategi pengembangan perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah melalui blueprint nasional mengenai pengembangan data center dan panas bumi.
“Strategi tersebut perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” kata Ahmad Yani.
Bagian dari Strategi Beyond Electricity
Pengembangan green data center menjadi bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Strategi ini tidak hanya berorientasi pada penjualan listrik, tetapi juga mendorong pemanfaatan panas bumi untuk berbagai kebutuhan.
Selain elektrifikasi green data center, PGE mengembangkan pemanfaatan panas bumi untuk green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.
Diversifikasi tersebut diharapkan dapat menciptakan permintaan baru terhadap energi panas bumi sekaligus meningkatkan pemanfaatan potensi panas bumi yang selama ini belum terserap secara optimal.
PGE Targetkan Kapasitas 1,8 GW pada 2034
Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan pertumbuhan kapasitas terpasang panas bumi secara bertahap menjadi sekitar 1 GW pada 2028 dan mencapai sekitar 1,8 GW pada 2034.
Pengembangan tersebut akan ditopang portofolio sumber daya panas bumi sekitar 3 GW dengan pipeline proyek yang disebut telah disiapkan secara terukur.
Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya PGE memperluas pemanfaatan panas bumi untuk berbagai kebutuhan energi, termasuk mendukung pertumbuhan data center dan ekosistem AI.
Pengembangan ini juga dinilai sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi tambahan 5,2 GW kapasitas panas bumi dalam RUPTL.
Momentum 100 Tahun Panas Bumi Indonesia
Ahmad Yani mengatakan pengembangan kapasitas panas bumi juga berkaitan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia pada 2030.
Menurut dia, momentum tersebut semakin penting karena tahun ini menandai 100 tahun perjalanan panas bumi nasional.
“Terlebih, tahun ini bertepatan dengan 100 tahun perjalanan panas bumi nasional. Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar dunia,” ujarnya.
Pertumbuhan Data Center Buka Kebutuhan Energi Baru
Di sisi lain, kebutuhan data center di Indonesia terus meningkat seiring percepatan transformasi digital dan perkembangan teknologi AI.
PGE menyebut data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 235,26 juta pengguna internet dan 185 fasilitas data center.
Jumlah fasilitas tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga 2029/2030. Pertumbuhan itu pada saat yang sama akan meningkatkan kebutuhan terhadap pasokan listrik yang stabil, andal, dan semakin rendah emisi.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi energi panas bumi untuk mengambil peran lebih besar dalam menopang kebutuhan listrik sektor digital.
Dengan karakteristik sebagai sumber energi baseload, PGE menempatkan panas bumi sebagai salah satu opsi strategis untuk mendukung kebutuhan listrik data center sekaligus pengembangan ekosistem AI di Indonesia.
Pengembangan tersebut akan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pembangkit, pengembangan model bisnis, serta diversifikasi pemanfaatan panas bumi untuk menciptakan ekosistem energi bersih yang mampu menjawab kebutuhan industri digital nasional.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















