Surakarta, beritageothermal.com – Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi panas bumi sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi menuju energi bersih. Dewan Energi Nasional (DEN) menyebut potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 40 persen dari potensi panas bumi dunia.
Hal tersebut disampaikan Anggota DEN Surono dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang digelar bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (8/9/2026).
Surono menilai pengembangan sumber energi terbarukan menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Salah satu persoalan yang disorot adalah kebutuhan minyak bumi nasional yang masih harus ditopang impor.
“Kita butuh minyak bumi 1,6 juta barel per hari, tetapi kita hanya punya 600 ribu barel, artinya 1 juta barel diimpor per hari. Padahal, kita dikaruniai energi terbarukan seperti matahari dan panas bumi yang tidak perlu diimpor,” kata Surono kepada wartawan di sela kegiatan.
Menurut Surono, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengoptimalkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri. Panas bumi menjadi salah satu pilihan karena Indonesia memiliki sumber daya yang besar dan tersebar di sejumlah wilayah.
Surono menambahkan Indonesia dikaruniai 40 persen potensi panas bumi global yang salah satunya terletak di kawasan Gunung Lawu.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan ketahanan energi nasional. Namun, pengembangan panas bumi tetap perlu memperhatikan kondisi sosial masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi.
Surono menekankan eksplorasi panas bumi perlu melibatkan warga yang berada di sekitar lokasi. Pelibatan masyarakat menjadi bagian penting agar pengembangan energi terbarukan dapat berjalan beriringan dengan kepentingan daerah dan masyarakat setempat.
Panas Bumi Jadi Alternatif Energi Domestik
Ketergantungan pada minyak impor menjadi salah satu tantangan dalam menjaga ketahanan energi. Dengan kondisi tersebut, pemanfaatan panas bumi dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan penggunaan sumber energi domestik.
Selain panas bumi, Surono juga menyoroti energi surya sebagai sumber energi terbarukan yang dapat dikembangkan lebih cepat. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dinilai memiliki peluang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.
Pengembangan berbagai sumber energi terbarukan tersebut membutuhkan dukungan riset dan inovasi. Perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk mengembangkan teknologi sekaligus menguji penerapannya di masyarakat.
UNS Kembangkan Energi Terbarukan
Sejalan dengan dorongan pengembangan energi bersih, UNS telah mengarahkan sebagian kegiatan risetnya pada sektor energi terbarukan.
Ketua PUI Teknologi Penyimpanan Energi Listrik UNS, Agus Purwanto, mengatakan sekitar 30 persen publikasi artikel ilmiah di kampus diarahkan pada inovasi energi terbarukan.
“Secara keilmuan, kami sudah sejalan dengan kebijakan nasional. Saat ini kami bekerja sama mengembangkan Desa Berdikari Energi dan sudah memasang sistem panel surya di sepuluh titik lokasi UMKM, yang saat ini sedang dikaji peningkatan ekonominya,” ujar Agus.
Program tersebut menjadi contoh pemanfaatan teknologi energi bersih secara langsung di tingkat masyarakat. UNS juga mendorong agar hasil riset akademik dapat lebih mudah diterapkan untuk memperluas penggunaan energi terbarukan.
Salah satu pendekatan yang dikaji adalah optimalisasi adopsi energi terbarukan melalui skema kredit perumahan. Skema tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengakses teknologi energi bersih secara lebih luas.
Target Bauran EBT 72 Persen
Pengembangan panas bumi, tenaga surya, dan sumber energi terbarukan lainnya tidak terlepas dari target jangka panjang pemerintah. Indonesia menargetkan porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi mencapai 72 persen pada 2060.
Untuk mengejar target tersebut, pengembangan sumber energi domestik perlu dilakukan secara konsisten. Panas bumi menjadi salah satu sumber yang memiliki keunggulan karena potensinya besar dan tidak perlu bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.
Potensi panas bumi di kawasan Gunung Lawu pun menjadi salah satu peluang yang dapat dikaji lebih lanjut dengan memperhatikan aspek teknis, lingkungan, serta keterlibatan masyarakat.
Kolaborasi antara DEN dan UNS dalam sosialisasi KEN diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai arah kebijakan energi sekaligus mendorong kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan energi terbarukan.
Pada akhirnya, optimalisasi panas bumi dan sumber energi bersih lainnya bukan hanya ditujukan untuk memenuhi target bauran energi. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















