Berita Geothermal – Pengembangan energi panas bumi di Flores kembali menjadi topik bahasan dalam Forum Dialog Geothermal NTT bertajuk “Ada Apa dengan Geothermal: Peluang dan Tantangan Energi Panas Bumi di Flores”.
Dialog panas bumi di Flores ini diprakarsai oleh Forum Pemuda Peduli Demokrasi (FP2D) yang ada di Ruteng dan mengambil tempat di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Manggarai. Hadir sebagai pembicara Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Manggarai, Herybertus GL Nabit, Executive Vice President Panas Bumi PLN John YS Rembot, JPIC SVD P Simon Tukan SVD, Kapolres Manggarai AKBP Hendri Syaputra, akademisi Maksimilianus Jemali dan ahli geothermal Basuki Arif Wijaya.
Dalam paparannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa panas bumi merupakan energi ramah lingkungan dengan potensi besar di Nusa Tenggara Timur, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal.
Dari total potensi energi baru terbarukan (EBT) di NTT, energi panas bumi diperkirakan mencapai 1.149 MW, tetapi kontribusinya belum maksimal.
“Panas bumi ini harus didorong dan dikelola secara terencana dan terintegrasi agar bisa mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil,” ujar Melki.
Meski demikian, ia mengakui bahwa proyek panas bumi di Flores memicu pro dan kontra. Pemerintah Provinsi NTT, katanya, mendengar semua aspirasi masyarakat baik yang mendukung maupun yang menolak. Melki menekankan pentingnya menjaga kohesi sosial di tengah perbedaan pandangan.
“Yang saya sedih dari urusan geothermal ini, kelompok pro dan kontra jalan masing-masing. Yang paling penting adalah kebersamaan dan kekeluargaan itu yang harus kita jaga,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pengembang agar memperhatikan aspek teknis dan memastikan penggunaan peralatan yang aman, sehingga tidak menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu Gubernur Melki juga menjelaskan rencana pemerintah mendirikan sekolah vokasi energi baru terbarukan (EBT) di NTT, terutama di daerah-daerah yang memang memiliki EBT yang potensial.
Unika Ruteng sebagai Ruang Dialog
Sementara itu, Wakil Rektor III Unika Ruteng, Dr. Fransiskus Sawan dalam sambutannya menekankan peran penting kampus sebagai jembatan dialog di tengah perbedaan pandangan terkait geothermal.
“Kami bersyukur, kampus Unika menjadi tempat penyelenggaraan Forum Dialog Geothermal NTT,” jelasnya.
Dr. Frans menilai isu panas bumi di NTT tidak sederhana. Ada pihak yang melihatnya sebagai peluang membuka lapangan kerja, meningkatkan akses energi, dan berkontribusi pada tanggung jawab ekologis global.
Tetapi ada juga suara kritis dari masyarakat adat, aktivis lingkungan, dan warga lokal yang khawatir akan dampak negatif seperti kerusakan ekologi, marginalisasi masyarakat, dan ancaman terhadap budaya lokal.
“Dalam konteks inilah Unika Santu Paulus Ruteng terpanggil untuk menghadirkan ruang dialog. Sebagai komunitas akademik yang transformatif, kolaboratif, dan berkarakter,” jelasnya dikutip dari laman Unika Santu Paulus Ruteng, Sabtu (23/8).
Dr. Frans menegaskan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh dilihat sebagai pertentangan yang menghasilkan menang dan kalah, melainkan sebagai dinamika kreatif untuk mencari solusi bersama.
“Kami percaya perbedaan pandangan bukanlah kontradiksi, tetapi bagian dari proses kolaboratif dalam menemukan jalan keluar yang terbaik,” tambahnya.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















