Berita Geothermal — Mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Yogyakarta mendorong pemanfaatan energi panas bumi di Pulau Flores secara adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat adat. Seruan ini disampaikan dalam seminar bertajuk “Energi Panas Bumi untuk NTT: Peluang dan Kendala” yang digelar Gerakan Aliansi Mahasiswa NTT Yogyakarta di ILC Jogja, Minggu (15/6).
Acara diskusi panas bumi tersebut mempertemukan para akademisi, pengamat kebijakan, praktisi energi, serta perwakilan dari PLN. Dikusi focus membahas potensi sekaligus tantangan pemanfaatan panas bumi sebagai energi masa depan di Flores dan wilayah NTT lainnya.
Ketua panitia seminar, Roni Dakuya, menegaskan bahwa secara geologis, Flores menyimpan cadangan panas bumi yang sangat besar dan strategis untuk mendukung transisi energi nasional. Namun ia mengingatkan agar potensi ini tidak hanya menjadi ladang eksploitasi korporasi.
“Flores punya emas di perut buminya. Tapi jangan sampai jadi rebutan segelintir korporasi. Energi ini harus dikelola dengan berpihak pada masyarakat adat dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Roni juga mengingatkan bahwa pemanfaatan energi bukan sekadar urusan bisnis. Melainkan juga soal kedaulatan dan partisipasi masyarakat.
“Jangan biarkan kita hanya jadi penonton di tanah sendiri,” tegas Roni.
Sementara itu, Prof. Agung Harijoko, Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal.
“Flores termasuk dalam jalur cincin api dunia dengan cadangan panas bumi yang sangat besar. Tapi kita masih menghadapi kendala kebijakan, minimnya investasi, serta kurangnya SDM yang mumpuni,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan energi panas bumi memerlukan pemahaman geologi mendalam serta dukungan kebijakan yang seimbang antara kepentingan investor dan perlindungan masyarakat. Menurutnya, energi geotermal tidak hanya untuk pembangkit listrik, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk pemanasan rumah kaca, spa, hingga pengolahan hasil pertanian.
PLN: Panas Bumi Jadi Prioritas Energi Bersih di NTT
Perwakilan PLN, Davianus H. Edy, menyampaikan bahwa sejumlah proyek panas bumi tengah dijalankan di wilayah NTT. Ia menekankan bahwa energi ini lebih stabil dibandingkan diesel dan tidak tergantung pada cuaca.
“Kami menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Setiap proyek kami jalankan melalui kajian AMDAL dan pelibatan masyarakat sejak tahap awal,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa PLN berkomitmen menghindari praktik penggusuran atau perampasan ruang hidup. “Energi ini untuk masyarakat, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Dari Forum Diskusi Menuju Gerakan Swasembada Energi
Seminar ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga menjadi titik tolak bagi mahasiswa, pemuda, dan masyarakat sipil NTT untuk mendorong kemandirian energi berbasis keadilan sosial dan kearifan lokal.
Berbagai pandangan mengemuka dalam sesi diskusi, termasuk pentingnya melihat isu energi dalam konteks geopolitik, diplomasi, dan penguatan peran masyarakat adat.
Potensi panas bumi di NTT dinilai dapat menjadi model kerja sama internasional yang tidak bertumpu pada dominasi modal asing, melainkan mengangkat partisipasi lokal secara bermartabat.
Gerakan Mahasiswa NTT Yogyakarta berharap hasil seminar ini dapat menjadi rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah, DPRD, maupun pemangku kebijakan lainnya dalam merancang arah pengelolaan energi di NTT yang berkelanjutan dan berkeadilan.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















