Jakarta, Beritageothermal.com – Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Indonesia dan Jepang terus mempererat kerja sama dalam mempercepat pengembangan energi bersih. Fokus kolaborasi kedua negara tidak hanya pada pengembangan panas bumi, tetapi juga mencakup pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), Sustainable Aviation Fuel (SAF), amonia hijau, teknologi penangkapan karbon, hingga perdagangan karbon.
Informasi tersebut disampaikan Ditjen EBTKE melalui laman resminya usai pertemuan bilateral dengan delegasi Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang di Jakarta pada Rabu (16/7). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi Indonesia dan Jepang dalam mendukung target transisi energi serta pengembangan teknologi rendah emisi.
Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi, didampingi Direktur Panas Bumi, Direktur Konservasi Energi, dan perwakilan Direktorat Energi Baru. Sementara dari Jepang hadir Director General for Energy and Environmental Policy, Agency for Natural Resources and Energy (ANRE), Shinichi Kihara.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah percepatan penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dan PLTP Muaralaboh Unit 2. Kedua proyek tersebut dipandang memiliki peran penting dalam meningkatkan kontribusi energi terbarukan terhadap bauran energi nasional sekaligus memperkuat keandalan sistem kelistrikan.
“Kami saat ini tengah melakukan percepatan pengembangan PLTP Sarulla dan PLTP Muaralaboh Unit 2. Untuk Sarulla, pemerintah terus mengupayakan pemulihan kapasitas pembangkitan melalui implementasi Long Term Restoration Plan dalam tiga tahap. Selain itu, Pemerintah juga secara aktif memberikan kepastian bagi investasi lanjutan guna memaksimalkan kapasitas pembangkit,” ujar Eniya.
EBTKE menjelaskan, pengembangan PLTP Muaralaboh Unit 2 diharapkan mampu menambah pasokan listrik berbasis energi bersih di Sumatera. Selain memperkuat sistem kelistrikan, proyek tersebut juga diproyeksikan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, membuka peluang kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
Selain proyek panas bumi, Indonesia dan Jepang turut mengevaluasi perkembangan sejumlah inisiatif strategis lain. Pembahasannya meliputi pembangunan PLTSa Legok Nangka di Jawa Barat, proyek Green Ammonia Initiative in Aceh (GAIA), pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk sektor penerbangan, pemanfaatan pembangkit nuklir skala kecil dan menengah (Small Modular Reactor/SMR), hingga penguatan mekanisme perdagangan karbon.
Dalam forum tersebut, kedua negara juga menyatakan komitmen untuk mempercepat implementasi Joint Crediting Mechanism (JCM) sebagai salah satu instrumen kerja sama pengurangan emisi. Melalui skema itu, Indonesia dan Jepang akan mendorong pengembangan proyek Carbon Capture and Storage (CCS) serta perdagangan karbon yang dapat diakui secara internasional.
Tak hanya membahas proyek energi bersih, Ditjen EBTKE juga memaparkan perkembangan implementasi konservasi energi di Indonesia. Pemerintah terus memperluas penerapan manajemen energi di sektor industri dan bangunan sebagai bagian dari strategi menekan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca.
“Hingga 2025, ratusan industri dan bangunan telah melaksanakan pelaporan melalui aplikasi Pelaporan Online Manajemen Energi (POME). Implementasi ini berkontribusi terhadap penghematan energi sekaligus penurunan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















