Menurut dia, Indonesia bisa meniru keberhasilan Islandia dalam memanfaatkan energi panas bumi.
“Islandia sudah berhasil mengembangkan pemanfaatan panas bumi, baik untuk pembangkit listrik maupun industri pariwisata seperti Blue Lagoon. Hal serupa juga terjadi di Wairakei (New Zealand) dan Vogelaer (Belanda), di mana energi geothermal digunakan untuk pertanian dan perkebunan,” ujar Ali.
Di sisi lain, masyarakat di NTT masih banyak yang bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mahal dan kurang ramah lingkungan. Transisi menuju geothermal dinilai tak hanya lebih efisien, tetapi juga lebih berkelanjutan bagi masa depan energi Indonesia.
Dari segi keamanan, teknologi PLTP telah berkembang dengan penerapan sistem pemantauan ketat untuk menghindari risiko lingkungan. Pengelolaan sumur panas bumi dilakukan dengan standar keamanan tinggi. Termasuk sistem injeksi ulang fluida untuk menjaga keseimbangan tekanan bawah tanah dan mencegah subsiden atau dampak geologis lainnya.
Selain memberikan stabilitas listrik, PLTP juga diklaim aman digunakan di daerah pemukiman. Studi dari berbagai negara seperti Islandia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat menyebutkan panas bumi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem setempat. Di Indonesia, regulasi ketat juga diberlakukan untuk memastikan proyek-proyek PLTP berjalan dengan prinsip keberlanjutan dan keamanan bagi masyarakat sekitar.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















