Jakarta, beritageothermal.com – Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia terus didorong agar lebih efisien dan mudah diterapkan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Geo Dipa Energi (Persero) kini mengembangkan teknologi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berbasis wellhead modular untuk mempercepat penyediaan listrik dari sumur panas bumi berkapasitas kecil.
Teknologi ini hadir sebagai alternatif dari sistem PLTP konvensional yang selama ini membutuhkan investasi besar, pembangunan fasilitas kompleks, serta waktu pengerjaan yang tidak singkat.
Melalui kolaborasi dengan Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE), BRIN mulai mengembangkan sistem pembangkit modular yang dapat ditempatkan langsung di dekat kepala sumur panas bumi. Pendekatan tersebut dinilai lebih praktis dan mampu memangkas biaya pembangunan infrastruktur.
Kepala PRTKE BRIN, Tata Sutardi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan prototipe PLTP skala kecil dengan melibatkan industri nasional dalam proses produksi turbin dan generator.
“PLTP skala kecil ini dapat dimanfaatkan pada sumur berkapasitas kecil, sehingga mempercepat periode pengembalian investasi (payback period) dan mempercepat ketersediaan listrik,” kata Tata saat penandatanganan kerja sama di Gedung 720 BRIN Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Selasa (7/4).
Menurut Tata, pengembangan teknologi panas bumi skala kecil harus diarahkan menuju industrialisasi agar mampu memperkuat rantai pasok industri dalam negeri sekaligus mendukung hilirisasi teknologi energi bersih.
Ia menilai Indonesia memiliki cadangan panas bumi yang besar, namun pemanfaatannya masih perlu dipercepat melalui sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan sektor industri.
Di sisi lain, Direktur Pengembangan Niaga dan Eksplorasi PT Geo Dipa Energi, Ilen Kardani, menjelaskan sistem wellhead modular memungkinkan pembangkit beroperasi di sumur berkapasitas 2 hingga 3 megawatt (MW).
Dengan konsep modular, pembangkit tidak perlu menunggu kapasitas besar untuk mulai menghasilkan listrik. Selain itu, pemasangan yang dilakukan langsung di area sumur dinilai mampu mengurangi kehilangan energi dari distribusi uap.
“Dengan kapasitas 2–3 MW, listrik yang dihasilkan sudah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi,” ujar Ilen.
Ia juga menyebut sistem modular dapat mempercepat titik balik modal proyek panas bumi. Dalam skema tertentu, pembangkit bahkan sudah bisa menghasilkan pemasukan dari penjualan listrik dalam waktu sekitar dua tahun.
Pengembangan ini melanjutkan sejumlah riset panas bumi yang sebelumnya telah dilakukan BRIN melalui teknologi organic rankine cycle (ORC). Teknologi tersebut telah diuji di beberapa lokasi, mulai dari kapasitas 2 kW di KST B.J. Habibie, 100 kW di Soreang Bandung, 500 kW di Lahendong Sulawesi Utara, hingga demo plant PLTP flash steam 3 MW di Kamojang, Jawa Barat.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















