Berita Geothermal — Arab Saudi kini berupaya serius memanfaatkan panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Pada tahap awal, panas bumi akan dimanfaatkan Arab Saudi sebagai energi pendinginan dan desalinasi air.
Pihak Kerajaan Arab Saudi menilai energi panas bumi mampu menjadi energi pengganti bahan bakar fosil yang selama ini dominan digunakan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) bersama TAQA Geothermal kini tengah menguji potensi panas bumi melalui proyek percontohan. Sumur sedalam 400 meter sudah dibor untuk mengukur suhu bawah tanah dan mengumpulkan data yang akan menjadi dasar pengembangan sumur yang lebih dalam.
Proyek pemanfaatan panas bumi ini diharapkan dapat memandu kebijakan energi nasional dan mendorong pemanfaatannya secara lebih luas.
Potensi di Arab Saudi
Letak geografis Arab Saudi menjadikan pendinginan dan desalinasi sangat penting. Sekitar 90 persen wilayah Arab Saudi berupa gurun dengan ketersediaan air yang terbatas, sehingga pabrik desalinasi di Laut Merah sangat vital. Namun, proses desalinasi membutuhkan energi besar, yang bisa dipasok lebih murah dan stabil melalui panas bumi.
Selain untuk pendinginan dan desalinasi, panas bumi juga berpotensi dimanfaatkan untuk pemanasan saat musim dingin, bahkan budidaya alga sebagai pakan ternak.
Menurut profesor riset KAUST, Thomas Finkbeiner, panas bumi seharusnya menjadi bagian penting dari transisi energi Kerajaan.
“Selain menyediakan energi berkelanjutan, penggunaannya untuk pendinginan dan desalinasi akan mengurangi konsumsi minyak domestik, sekaligus membuat sistem listrik lebih tangguh,” katanya dikutip dari Arab News, Rabu (27/8).
Ia menambahkan, pengembangan panas bumi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu sehingga bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi insinyur dan ilmuwan muda.
Meski biaya awal pengembangan panas bumi relatif tinggi karena kebutuhan eksplorasi dan pengeboran, pengalaman panjang Arab Saudi dalam industri perminyakan diyakini dapat mengatasi sebagian besar tantangan teknis tersebut.
Lebih dari itu, air panas bawah tanah juga berpotensi mengandung mineral berharga seperti litium, yang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan di luar energi bersih.
Studi awal memperkirakan Arab Saudi mampu memasang kapasitas panas bumi hingga 1 GW pada 2035. Kontribusi ini akan mendukung target Vision 2030 yang menargetkan 50 persen listrik berasal dari energi terbarukan.
Dengan sifatnya yang stabil 24 jam tanpa henti, panas bumi diyakini dapat melengkapi tenaga surya dan angin, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















