Berita Geothermal — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa energi panas bumi merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan (EBT) yang sangat strategis untuk masa depan. Menurutnya, Flores berpotensi menjadi pusat pengembangan energi panas bumi dengan tata kelola yang baik, transparan, dan berkelanjutan.
“Panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan energi lain seperti air, angin, maupun surya, karena mampu menyediakan pasokan energi secara berkelanjutan. Pemanfaatan energi panas bumi adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE),” ujarnya.
Hal itu disampaikan Johni Asadoma saat membuka diskusi publik bertajuk “Pengembangan Geothermal di Pulau Flores” yang digelar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) di Aula Rektorat Lantai 3 Undana, Kupang, Kamis (4/9/2025).
Diskusi publik tersebut merupakan rangkaian Dies Natalis Undana ke-63 dan menghadirkan pakar energi, akademisi, serta pemangku kepentingan di bidang energi terbarukan.
Beberapa pembicara utama yang hadir antara lain:
• Gigih Udi Atmo, S.T., M.EPM., Ph.D (Direktur Panas Bumi, Ditjen EBTKE)
• Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM (pakar panas bumi UGM)
• Ir. M. Ali Ashat, Dipl. Geothermal, En. Tech (pakar panas bumi ITB)
• Valens Dulmin, S.S., S.H., M.H (peneliti dan koordinator advokasi JPIC OFM)
• Dr. Felix Baghi, SVD (dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero)
Para narasumber membahas sejumlah topik penting, mulai dari roadmap pengembangan geothermal di Pulau Flores, teknologi eksplorasi dan pemanfaatan panas bumi, hingga kajian lingkungan serta aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.
Wagub Asadoma menekankan pentingnya menghasilkan rekomendasi konkret dari diskusi ini.
“Melalui diskusi publik ini kita berharap bisa menemukan solusi agar tata kelola pengembangan panas bumi di Flores semakin baik, transparan, serta memperhatikan aspek sosial, budaya, dan ekologi,” tambahnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersinergi:
“Mari kita bersama-sama mendorong agar pemanfaatan panas bumi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.”
Sementara itu, Rektor Undana, Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata dari tagline “Undana Berdampak.”
“Perguruan tinggi tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tetapi juga harus menjadi agen perubahan, terutama di wilayahnya. Kita harus hadir sebagai solusi bagi berbagai permasalahan dan tantangan yang ada,” ungkapnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt. yang bergabung secara daring, serta Forkopimda NTT, sivitas akademika Undana, mahasiswa FST, LSM, dan sejumlah undangan lainnya.
Diketahui, Flores memiliki potensi energi panas bumi mencapai 820 MW dan telah ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 2268 K/30/MPM/2017.
Namun energi panas bumi yang begitu besar tersebut baru dimanfaatkan hanya 18 MW saja, yakni dari PLTP Ulumbu 10 MW dan PLTP Mataloko 8 MW.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















