Berita Geothermal — Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dikunjungi masyarakat dari berbagai unsur lewat kegiatan site visit yang digelar pada Rabu (18/6) oleh pihak PLN. Hadir di antaranya Kepala Desa Wewo dan Lungar, pendamping PKH, tokoh pemuda, petani, serta sejumlah wartawan Manggarai.
Para peserta diterima di kantor PLTP Ulumbu, Desa Wewo. Mereka mendapat pemaparan langsung tentang proses pengolahan energi panas bumi dan manfaatnya bagi sistem kelistrikan Flores. Tur fasilitas dilakukan ke sejumlah titik utama, seperti sumur produksi, unit separator, hingga turbin pembangkit listrik.
“Harapannya, melalui kunjungan ini masyarakat bisa lebih memahami proses dan manfaat panas bumi, sehingga kesalahpahaman yang selama ini ada bisa diminimalisir,” ujar Roya Ginting dari bagian teknis panas bumi PLTP Ulumbu.
Dalam kesempatan tersebut, Roya menjelaskan bahwa pengembangan PLTP Ulumbu (2×20 MW) merupakan bagian dari upaya transisi energi, yakni beralih dari energi fosil ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, energi panas bumi memiliki keunggulan dibanding sumber energi lain karena tidak tergantung pada cuaca seperti halnya energi surya atau angin.
“Geotermal adalah sumber energi bersih, stabil, dan berkelanjutan. Sumbernya tidak terganggu oleh kondisi iklim, sehingga bisa menjadi solusi jangka panjang untuk kebutuhan listrik nasional,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Pulau Flores telah ditetapkan sebagai ikon pengembangan energi geotermal melalui Keputusan Menteri ESDM No. 2268K/30/MEM/2017 tanggal 19 Juni 2017. Khusus di Kecamatan Satar Mese, wilayah kerja panas bumi yang dikembangkan mencapai 18 hektare, menandakan besarnya potensi energi terbarukan di kawasan ini.
Keterlibatan Masyarakat dan Edukasi Lapangan
Dalam rangkaian site visit, peserta diajak meninjau langsung berbagai fasilitas utama PLTP Ulumbu, mulai dari sumur produksi panas bumi, unit separator, hingga turbin pembangkit. Masing-masing tahapan proses dijelaskan secara detail, mulai dari ekstraksi fluida panas bumi dari perut bumi hingga diubah menjadi energi listrik yang disalurkan ke jaringan.
PLTP Ulumbu juga menegaskan bahwa teknologi panas bumi berbeda dengan kegiatan pertambangan. Proses geotermal tidak melibatkan penggalian dan pengangkutan material yang merusak lingkungan, melainkan memanfaatkan uap panas dari dalam bumi secara berkelanjutan.
Tak hanya fokus pada aspek teknis, kegiatan ini juga memperkenalkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan di sekitar proyek. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan PLTP Ulumbu juga memperhatikan pembangunan sosial dan ekonomi warga lokal, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
Beberapa hari sebelumnya, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Gigih Udi Atmo, melakukan kunjungan ke lokasi proyek PLTP Ulumbu Unit 5 dan 6 di Poco Leok. Ia menyebut pengembangan ini sebagai bagian dari inisiatif strategis pemerintah dalam membangun sistem energi bersih di wilayah timur Indonesia.
“Pembangunan ini penting untuk memenuhi kebutuhan listrik Flores yang terus meningkat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional,” ujar Gigih.
Ia menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya menambah daya sebesar 40 megawatt, tetapi juga mendukung proses recovery steam atau pemulihan tekanan uap di unit yang telah beroperasi.
Gigih pun mengajak seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah daerah, untuk bersama-sama mendukung pengembangan PLTP Ulumbu demi masa depan energi nasional yang lebih hijau.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















