Berita Geothermal — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengunjungi fasilitas Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, Sabtu (10/5/2025), setelah sebelumnya menemui para petani gula aren di Dusun Cisarua, Garut. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan, energi terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli Antoni didampingi oleh Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko dan Dirjen PDASRH Dyah Murtiningsih. Selain meninjau instalasi panas bumi, Menhut juga menyempatkan diri mengunjungi Pusat Konservasi Elang Kamojang milik PGE. Pada Minggu (11/5/2025), ia turut melepasliarkan dua ekor elang jawa hasil rehabilitasi.
“Alhamdulillah hari ini kita melepaskan dua ekor elang jawa, hasil dari konservasi dan rehabilitasi,” ujar Raja Juli Antoni seusai kegiatan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara atau menangkap satwa liar. “Kemarin, di depan mata saya sendiri, ada elang yang dipelihara. Karena kurang pengetahuan, dua sayapnya patah. Ini sangat menyedihkan,” tegasnya.
Menhut pun memuji inisiatif PGE Kamojang dalam pelestarian satwa, khususnya elang jawa. Namun, kunjungan ini tak hanya berbicara soal konservasi satwa, tapi juga menyentuh potensi besar tanaman aren sebagai sumber kehidupan dan energi masa depan.
Raja Juli menyoroti pentingnya energi panas bumi untuk mendukung keberlanjutan pertanian gula aren. Ia mengisahkan pertemuannya dengan Kamal, seorang petani aren di Dusun Cisarua yang mampu menyekolahkan anak hingga sarjana hanya dari hasil sadapan nira.
“Satu pohon bisa menghasilkan Rp200 ribu per hari. Bayangkan, berapa potensi jika kita tanam lebih luas,” kata Raja Juli.
Menurutnya, tanaman aren bukan hanya penghasil gula, tapi juga dapat dimanfaatkan dari ujung daun hingga akar. Aren menghasilkan ijuk, pati sagu dari batang, bahan kosmetik, bahkan bioetanol yang bisa mendukung ketahanan energi.
“Pak Presiden sudah lama menjadikan pohon aren sebagai tanaman favorit karena keajaibannya,” ujar Raja Juli. “Kalau kita tanam 1,2 juta hektare, kita bisa swasembada energi. Tahun ini, Pak Prabowo sudah perintahkan 300 ribu hektare ditanam,” imbuhnya.
Dari hitungan teknis, satu hektare tanaman aren yang tumbuh optimal dapat menghasilkan hingga 24 ribu liter bioetanol. Ini memberi peluang besar bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus memberdayakan petani lokal.
Raja Juli juga mengangkat contoh praktik sukses di Masarang, Minahasa, Sulawesi Utara. Di sana, PGE Lahendong telah membantu petani dalam memproduksi gula aren tanpa kayu bakar, melainkan menggunakan uap panas bumi yang dialirkan langsung dari instalasi PGE.
Ia pun berharap PGE Kamojang dapat mereplikasi dukungan serupa. “Produksi gula aren di wilayah panas bumi Kamojang cukup besar. Jika PGE bisa ikut membantu, ini akan sangat berarti bagi para petani,” ujarnya.
Kunjungan ini menjadi pesan kuat bahwa kolaborasi antara pelestarian lingkungan, energi bersih, dan ekonomi kerakyatan bisa berjalan beriringan—“Dari hutan, untuk masa depan Indonesia.” ***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















