Jakarta, Beritageothermal.com – Pengembangan energi panas bumi Indonesia memasuki fase penting. Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), kerja sama investasi, pengembangan teknologi hingga skema pendanaan dijadwalkan menjadi bagian utama dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026.
IIGCE 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 19-21 Agustus 2026, dengan agenda utama digelar di Jakarta International Convention Center (JICC). Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan keynote speech sekaligus membuka rangkaian kegiatan pada hari pertama.
Berdasarkan agenda terbaru yang diperbarui 12 Agustus 2026, sesi pembukaan akan dimulai dengan rangkaian seremoni dan penandatanganan berbagai proyek panas bumi. Kehadiran sejumlah pejabat negara dan pelaku industri membuat forum ini menjadi salah satu agenda penting bagi perkembangan geothermal di Indonesia.
Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan keynote speech pada pukul 11.30-11.45 WIB. Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dijadwalkan menyampaikan laporan sekaligus melakukan penandatanganan buku perayaan 100 tahun geothermal.
Delapan proyek panas bumi masuk agenda seremoni
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah peluncuran capaian proyek geothermal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam agenda tersebut tercantum kegiatan live streaming konstruksi PLTP, pengeboran, direct use dan community development dari delapan proyek panas bumi.
Kedelapan proyek tersebut yakni:
- PLTP Sarulla.
- PLTP Patuha Unit 2.
- PLTP Muara Laboh Unit 2.
- PLTP Salak Unit 7.
- PLTP Wayang Windu Unit 3.
- PLTP Dieng Unit 2.
- PLTP Sokoria.
- PLTP Lahendong.
Selain itu, terdapat sejumlah agenda penandatanganan yang berkaitan dengan pengembangan proyek geothermal nasional.
Di antaranya penyerahan SK IPB kepada PT PLN (Persero) di WKP Gunung Ungaran dan PT Telaga Rano Geothermal di WKP Telaga Ranu.
Ada pula penandatanganan perubahan kedua PPA Rajabasa Geothermal Power Plant antara PT PLN (Persero) dan PT Supreme Energy Rajabasa.
PGE dan PLN siapkan pengembangan geothermal binary
Agenda IIGCE 2026 juga mencatat rencana penandatanganan Letter of Intent (LOI) antara PT PLN (Persero) dengan konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE)-PT PLN Indonesia Power.
Kerja sama tersebut berkaitan dengan proyek pembelian listrik PLTP Sulbagut berupa Lahendong Binary (Bottoming) Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara.
LOI lainnya dijadwalkan berkaitan dengan proyek pembelian tenaga listrik PLTP Sumatera berupa Ulubelu Binary (Bottoming) Unit.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya diarahkan pada pembangunan pembangkit baru, tetapi juga optimalisasi sumber daya dari fasilitas yang telah beroperasi.
Agenda lain yang tak kalah penting adalah LOI antara PLN dan Sarulla Operations Ltd untuk restorasi PLTP Sarulla berkapasitas 330 MW.
Ada pendanaan USD 40 juta untuk eksplorasi Wapsalit
Pengembangan wilayah kerja panas bumi juga mendapat perhatian melalui rencana penandatanganan MoU fasilitas pendanaan senilai USD 40 juta untuk proyek eksplorasi PLTP Wapsalit berkapasitas 20 MW.
Pendanaan tersebut menggunakan skema Geothermal Resource Risk Mitigation (GREM) melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).
Sementara itu, MCI Renewables dijadwalkan menandatangani Strategic Partnership Agreement dengan Baker Hughes. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi surface dan subsurface serta hilirisasi manufaktur dalam negeri.
Geothermal dibawa ke isu kemandirian energi
Setelah sesi pembukaan, pembahasan IIGCE 2026 akan diarahkan pada tema “Geothermal for National Energy Self-Independence”.
Sesi pleno pertama dijadwalkan menghadirkan Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir dan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.
Diskusi juga melibatkan Direktur Project Management and New & Renewable Energy PT PLN (Persero) Suroso Isnandar, CEO Sarulla Operations Ltd Taku Kimura, Presiden Indonesian Geothermal Association (INAGA/API) Julfi Hadi serta Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani.
Forum tersebut akan membahas posisi panas bumi dalam memperkuat kemandirian energi nasional, termasuk dari sisi proyek, investasi, teknologi dan pengembangan industri.
Hari kedua bahas dampak ekonomi dan teknologi
Agenda berlanjut pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sejumlah kerja sama baru dijadwalkan ditandatangani, termasuk pengembangan program studi geologi dengan konsentrasi geothermal di Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur.
Ada pula kerja sama antara Direktorat Jenderal EBTKE dan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas untuk mendukung ketahanan energi serta membuka lapangan pekerjaan hijau atau green jobs.
Sektor teknologi juga mendapat porsi besar. PT Cakrawala Power International dan Baker Hughes Indonesia dijadwalkan menandatangani kerja sama studi dan pengembangan off-grid green data center berbasis geothermal.
PT Pertamina Geothermal Energy dan PT Elnusa Petrofin juga dijadwalkan melakukan perjanjian studi bersama terkait utilisasi green hydrogen.
Pengembangan pemanfaatan langsung panas bumi juga masuk agenda. Salah satunya kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi pemanfaatan panas bumi untuk sektor perkebunan teh.
Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan bicara soal dampak geothermal
Plenary Session 2 bertajuk “Delivering Geothermal Impact for Indonesia” akan menghadirkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai keynote speaker.
Sesi ini juga dijadwalkan menghadirkan Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi, Founder Supreme Energy Supramu Santosa, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Technical Director PT ORMAT Geothermal Indonesia Remi Harimanda, Chief Operating Officer & Power Plant Operations Star Energy Geothermal Suharsono Darmono serta Brian Groody dari Baker Hughes.
Pembahasan kemudian bergeser ke inovasi teknologi dan solusi off-grid untuk membangun sistem energi mandiri.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie dijadwalkan menjadi salah satu keynote speaker dalam sesi tersebut.
Tak hanya listrik, panas bumi diarahkan ke sektor lain
IIGCE 2026 juga mengangkat gagasan pemanfaatan panas bumi di luar produksi listrik atau beyond kWh.
Dalam sesi teknis, topik yang dibahas antara lain monetisasi aset lingkungan melalui kredit karbon, produk turunan geothermal serta pemanfaatan langsung untuk kesehatan, pariwisata, balneologi dan pertanian.
Topik teknis lainnya mencakup pengelolaan reservoir, eksplorasi geologi dan geofisika, teknologi pengeboran, pembangkitan listrik, pengelolaan korosi serta scaling.
Dengan demikian, forum geothermal ini tidak semata membicarakan kapasitas pembangkit, tetapi juga bagaimana sumber panas bumi dapat menciptakan nilai ekonomi baru dan membuka lapangan kerja.
Pengumuman WKP baru hingga penghargaan
Pada hari kedua, agenda juga mencantumkan pengumuman penawaran PSPE dan WKP baru serta pemberian penghargaan bidang panas bumi.
Rangkaian konvensi kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang Best Paper, Best Poster, Best Booth, kompetisi foto dan video serta kompetisi esai.
Hari ketiga, Jumat, 21 Agustus 2026, akan diisi dengan field trip, pre-conference workshop, kunjungan mahasiswa, visitor exhibition dan exhibition stage.
Agenda tersebut masih berstatus to be confirmed dan penyelenggara menyatakan jadwal dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















