Jakarta, Berita Geothermal – Pemerintah Amerika Serikat melalui Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung pengembangan teknologi untuk mengekstraksi litium dari sumber panas bumi di Indonesia. Dukungan tersebut diwujudkan melalui proyek percontohan yang melibatkan perusahaan teknologi asal California, Lilac Solutions, bersama PT Geo Dipa Energi.
Proyek ini akan dijalankan di kawasan panas bumi Dieng, Jawa Tengah. Dalam proyek tersebut, Lilac akan mendemonstrasikan teknologi pemulihan litium dari air garam panas bumi menggunakan metode pertukaran ion.
Fasilitas yang dibangun dalam proyek ini disebut akan menjadi yang pertama di Indonesia yang mampu menarik litium dari air garam panas bumi. Mineral tersebut merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern, termasuk baterai kendaraan listrik dan perangkat elektronik.
Wakil Direktur USTDA Thomas R. Hardy mengatakan akses terhadap mineral penting seperti litium menjadi faktor strategis bagi keamanan ekonomi dan teknologi.
“Keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses ke mineral penting dari sumber-sumber tepercaya,” kata Hardy dalam keterangan resminya (14/03/2026)
“Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasokan yang tangguh dan memajukan pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab dengan mitra kami di Indonesia,” lanjutnya.
Selain mendukung implementasi teknologi, USTDA juga akan membantu membuka akses pasar bagi litium karbonat yang dihasilkan dari proyek tersebut. PT Geo Dipa Energi nantinya akan difasilitasi untuk terhubung dengan calon pembeli dari Amerika Serikat.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Yudistian Yunis menyebut dukungan ini sebagai langkah penting untuk memperkuat pemanfaatan sumber daya litium di Indonesia.
“Dukungan USTDA menandai langkah penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litiumnya dan memperkuat kolaborasi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Yudistian.
Ia menjelaskan litium sebenarnya telah terdapat secara alami dalam air garam panas bumi yang selama ini menjadi bagian dari operasi pembangkit panas bumi. Dengan teknologi baru, sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu proses produksi energi yang sudah berjalan.
“Inisiatif ini dapat mendukung pengembangan industri baterai Indonesia dan aplikasi berbasis litium domestik lainnya dengan membuka nilai tambahan dari sumber daya terbarukan. Litium secara alami hadir dalam air garam panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, memungkinkan kami untuk menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil mempertahankan pengelolaan lingkungan yang kuat,” katanya.
Menurut Yudistian, dukungan dari USTDA juga membuka akses terhadap teknologi dan keahlian dari Amerika Serikat serta membantu mempertemukan Geo Dipa dengan calon pembeli potensial di pasar internasional.
Sementara itu, CEO Lilac Solutions Raef Sully mengatakan proyek ini menjadi peluang untuk menunjukkan potensi teknologi ekstraksi litium yang dikembangkan perusahaan tersebut.
“USTDA membuka pintu bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing secara global. Ladang panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang belum dimanfaatkan yang signifikan, dan proyek ini akan menunjukkan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat membukanya secara bertanggung jawab dan dalam skala besar,” ujarnya.
Ke depan, proyek ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan industri litium berbasis energi terbarukan di Indonesia sekaligus memperkuat posisi negara ini dalam rantai pasok mineral penting di kawasan Indo-Pasifik.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















