Jakarta, Berita Geothermal – Upaya pemerintah mempercepat transisi energi bersih menunjukkan kemajuan signifikan melalui pemetaan terbaru potensi panas bumi nasional. Data ini diambil dari laman resmi Genesis – EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mencatat Indonesia memiliki 61 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), 16 Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE), serta 359 titik potensi panas bumi yang tersebar di berbagai provinsi.
Dalam peta tersebut menampilkan status terkini setiap wilayah, mulai dari tahap survei, penawaran/lelang, eksplorasi, eksploitasi, hingga produksi. Beberapa titik potensi masih berstatus belum memiliki pemegang izin pengusahaan panas bumi (IPB), sehingga membuka peluang investasi baru bagi pengembangan energi bersih di masa mendatang.
Pengembangan PLTP 2025–2034 Diproyeksi Capai 5.157 MW
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, panas bumi ditetapkan sebagai salah satu prioritas pengembangan energi. Berdasarkan data dari laman resmi Genesis – EBTKE, terdapat 69 proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan total rencana kapasitas 5.157 MW.
Rincian rencana kapasitas pengembangan meliputi:
- Sumatera: 2.017 MW (21 proyek)
- Jawa-Madura-Bali (Jamali): 2.503 MW (28 proyek)
- Sulawesi: 305 MW (5 proyek)
- Nusa Tenggara: 187 MW (9 proyek)
- Maluku: 145 MW (6 proyek)
- Kalimantan dan Papua: belum tercatat rencana proyek baru
Peta perencanaan panas bumi juga menandai wilayah-wilayah dengan status eksplorasi, eksploitasi, produksi, serta wilayah terbuka, sehingga memudahkan pemantauan perkembangan proyek di lapangan.
Indonesia Tempati Peringkat Kedua Dunia Kapasitas PLTP
Hingga 1 September 2025, Genesis – EBTKE mencatat kapasitas terpasang PLTP Indonesia telah mencapai 2.743,91 MW, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas panas bumi terbesar kedua di dunia. Kapasitas tersebut berasal dari berbagai wilayah kerja yang telah beroperasi komersial.
Produksi listrik dari panas bumi sepanjang Januari–Agustus 2025 mencapai 11.525.813 MWh, seluruhnya digunakan untuk mendukung pasokan listrik nasional berbasis energi hijau.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi Semakin Nyata
Pemanfaatan panas bumi pada 2024 berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon sebesar 13,7 juta ton CO₂e, menurut pemutakhiran data resmi. Selain itu, industri panas bumi menyerap 5.682 tenaga kerja hingga April 2025, menandai kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Indikator keselamatan kerja dalam proyek panas bumi juga menunjukkan capaian positif, dengan total 17.253.059 jam kerja selamat tercatat dalam proyek eksplorasi dan eksploitasi di seluruh wilayah.
PNBP Panas Bumi Tembus Rp1,08 Triliun
Sektor panas bumi terus memperkuat kontribusinya terhadap penerimaan negara. Hingga triwulan II 2025, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp1,08 triliun, ditambah bonus produksi Rp57 miliar dari 17 WKP yang telah berproduksi.
Dengan pemetaan yang semakin detail dan potensi yang masih luas, pemerintah menargetkan panas bumi menjadi salah satu pilar utama bauran energi nasional. Percepatan eksplorasi, penawaran blok baru, serta peningkatan investasi strategis diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi menuju target emisi nol bersih pada 2060.
Sumber Website: genesis.ebtke.esdm.go.id
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















