Berita Geothermal –Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia tengah menjadi sorotan utama, baik di tingkat kementerian maupun istana negara. Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menunjukkan perhatian serius terhadap potensi besar energi terbarukan ini.
Namun di balik besarnya peluang dan dukungan politik, pemanfaatan panas bumi masih menghadapi tantangan serius: rendahnya tingkat acceptability atau penerimaan sosial.
Hal itu diungkapkan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi saat membuka konsultasi publik Rancangan Revisi PP No 7 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Tidak Langsung Panas Bumi pada Kamis (3/7) di Jakarta.
Eniya mengatakan,sejak pertama kali menjabat sebagai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia langsung mengarahkan perhatiannya ke sektor panas bumi. Keseriusan ini juga diperlihatkan oleh Presiden Prabowo yang hadir langsung dalam peresmian PLTP Ijen dan peletakan batu pertama proyek panas bumi lainnya pada Kamis, 26 Juni lalu.
“Dalam beberapa kesempatan, Presiden juga menyinggung panas bumi sebagai elemen penting dalam membangun ketahanan energi nasional,” jelasnya.
Tak hanya sebatas simbolik, dukungan pemerintah juga tampak dalam percepatan sertifikasi dan pengoperasian proyek-proyek panas bumi. Seperti disampaikan oleh Direktur Panas Bumi EBTKE Eniya Listiani Dewi, PLTP Lumut Balai Unit 2 telah menerima sertifikat layak operasi, yang turut mendorong peningkatan kapasitas nasional.
Target Ambisius, Potensi Besar
Dengan tambahan kapasitas dari Lumut Balai dan beberapa PLTP lain yang Commercial Operation Date (COD) baru-baru ini, total kapasitas panas bumi Indonesia kini mencapai 2.743 MW. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas sebesar 1,5 GW dalam lima tahun ke depan, sehingga pada 2029 kapasitasnya bisa menembus 3,6 GW.
Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), target jangka panjang Indonesia mencapai 5,2 GW dalam 10 tahun ke depan.
“Sebagai negara yang berada di wilayah ring of fire, potensi panas bumi Indonesia sangat besar, tersebar mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi hingga Indonesia Timur. Bila dikembangkan optimal, energi ini bisa menjadi tulang punggung transisi energi bersih nasional,” kata Eniya lagi.
Multiplier Effect dan Kontribusi Ekonomi
Eniya menjelaskan, pengembangan panas bumi terbukti memberikan multiplier effect yang luas. Sektor ini menciptakan 5.200 tenaga kerja profesional secara langsung, dan diperkirakan berdampak pada sekitar 870 ribu tenaga kerja tidak langsung. Dari sisi investasi, dalam 10 tahun terakhir tercatat masuknya dana sebesar USD 9,3 miliar, dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 18,2 triliun.
Selain itu, daerah penghasil panas bumi juga menerima bonus produksi yang telah mencapai Rp 1 triliun.
Dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029, kontribusi panas bumi menjadi signifikan. Bukan hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai pendorong sektor manufaktur dalam negeri yang memproduksi turbin dan komponen pendukung lainnya.
Tantangan: Acceptability Masih Rendah
Di balik semua capaian dan prospek cerah itu, lanjut Eniya, isu rendahnya acceptability menjadi tantangan utama. Dalam tiga parameter utama penilaian energi baru terbarukan — acceptability, affordability, dan sustainability — aspek acceptability menjadi yang terendah, khususnya untuk panas bumi.
Isu lingkungan, komunikasi yang kurang efektif dengan masyarakat, serta persepsi negatif terhadap eksplorasi panas bumi masih menjadi penghambat. Oleh karena itu, menurut Eniya, perlu ada strategi komunikasi dan pendekatan sosial yang lebih baik.
Pemerintah, tegasnya, kini mulai mengedepankan konsep sustainable geothermal atau pengembangan panas bumi berkelanjutan yang memperhatikan ekosistem dan partisipasi masyarakat lokal.
“Kalau kita bisa membangun ekosistem lingkungan yang baik, berkomunikasi dengan masyarakat secara terbuka, dan melibatkan mereka dalam proses, maka acceptability akan meningkat,” ungkap Eniya.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















