Maumere, Beritageothermal.com – Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores terus menjadi perhatian berbagai pihak seiring upaya Indonesia mempercepat transisi menuju energi bersih. Untuk memperkuat ruang diskusi berbasis ilmu pengetahuan, tiga perguruan tinggi Katolik menginisiasi Forum Geothermal Flores-Lembata yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Forum yang digelar di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, pada 23 Juli 2026, menjadi wadah bertukar gagasan mengenai potensi sekaligus tantangan pengembangan panas bumi sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Selain IFTK Ledalero, forum tersebut melibatkan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung dan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Hadir pula perwakilan pemerintah, PT PLN (Persero), akademisi, hingga perusahaan yang bergerak di sektor panas bumi.
Berbeda dari forum teknis pada umumnya, diskusi ini dirancang untuk mempertemukan berbagai perspektif melalui pendekatan akademik sehingga setiap pandangan dapat dikaji berdasarkan data, penelitian, dan pengalaman di lapangan.
Rektor IFTK Ledalero, Pastor Otto Gusti Madung SVD, mengatakan penyelenggaraan forum merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Bukanlah wadah untuk mengubah penolakan menjadi persetujuan.”
Menurut Pastor Otto, forum justru menjadi ruang terbuka untuk mendengar pengalaman masyarakat, menguji berbagai argumen secara ilmiah, serta memperluas pemahaman publik mengenai pengembangan energi panas bumi di Flores.
Geothermal Diproyeksikan Jadi Penopang Transisi Energi
Pemerintah Indonesia menempatkan energi panas bumi sebagai salah satu tulang punggung transisi energi nasional. Dengan potensi geothermal yang besar, Flores ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi sejak 2017 untuk mendukung penyediaan listrik yang lebih andal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Pengembangan geothermal dinilai mampu memberikan manfaat jangka panjang, mulai dari peningkatan ketahanan energi, pengurangan emisi karbon, hingga mendukung target Net Zero Emission (NZE) yang dicanangkan pemerintah.
Meski demikian, implementasi proyek di sejumlah wilayah masih memunculkan berbagai pandangan dari masyarakat sehingga dialog yang terbuka dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembangunan.
Pemerintah Pastikan Aspirasi Masyarakat Menjadi Perhatian
Dalam forum tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mengevaluasi pengembangan proyek panas bumi dengan tetap memperhatikan suara masyarakat.
“Proyek harus dihentikan jika masyarakat menolaknya dengan keras. Saya juga menghargai jika suatu wilayah menolaknya. Kita tidak bisa memaksakan hal itu.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih tetap harus berjalan beriringan dengan komunikasi, transparansi, dan penghormatan terhadap aspirasi masyarakat di daerah.
Sejumlah Komunitas Memilih Tidak Mengikuti Forum
Forum ini tidak dihadiri oleh sejumlah komunitas adat dari Mataloko, Ulumbu, Poco Leok, dan Sokoria. Mereka memutuskan tidak berpartisipasi karena menilai masih terdapat persoalan yang perlu diselesaikan terkait pengembangan proyek geothermal di wilayah mereka.
Meski demikian, penyelenggara berharap ruang dialog akademik seperti ini dapat terus dibangun agar berbagai pandangan dapat didiskusikan secara terbuka, objektif, dan berbasis kajian ilmiah.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















