Jakarta, Beritageothermal.com – Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemimpin energi bersih dunia berkat potensi panas bumi (geothermal) yang mencapai sekitar 27 gigawatt (GW). Dengan cadangan terbesar di dunia tersebut, energi panas bumi dinilai dapat menjadi pilar penting dalam mendukung transisi energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Saat ini, pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih berada pada kisaran 2 hingga 3 GW. Kondisi tersebut justru menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan yang sangat besar untuk meningkatkan pasokan listrik bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, menilai panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang memiliki keunggulan kompetitif karena mampu menghasilkan listrik secara stabil dan ramah lingkungan.
“Kalau kita bicara biaya pembangkitan listrik, PLTP sebenarnya termasuk murah. Memang bukan yang paling murah karena PLTA masih lebih rendah, tetapi panas bumi sangat kompetitif dan ramah lingkungan,” kata Marwan, Jumat (5/6).
Peluang Besar Mendorong Investasi Energi Bersih
Menurut Marwan, salah satu tantangan utama dalam pengembangan panas bumi adalah tingginya biaya investasi awal dan risiko eksplorasi. Namun, tantangan tersebut dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk memperkuat perannya dalam menciptakan iklim investasi yang lebih menarik.
Ia menilai dukungan negara pada tahap eksplorasi akan mampu mempercepat pengembangan proyek-proyek panas bumi yang selama ini belum tergarap optimal.
“Risiko eksplorasi inilah yang selama ini menjadi hambatan. Seharusnya negara bisa mengambil peran lebih besar untuk menanggung sebagian risiko tersebut agar investasi dapat bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor panas bumi berpotensi menarik investasi jangka panjang sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Energi Panas Bumi Dinilai Mampu Memperkuat Transisi Energi
Di tengah upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, panas bumi dinilai memiliki posisi strategis karena mampu menyediakan listrik bersih secara berkelanjutan selama 24 jam.
Marwan menilai pengembangan geothermal perlu menjadi prioritas nasional mengingat Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah dan tersebar di berbagai wilayah.
Menurutnya, pengembangan energi bersih harus didukung tata kelola yang baik agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Transparansi Jadi Kunci Kepercayaan Investor
Marwan menekankan pentingnya transparansi dalam setiap tahapan pengembangan proyek energi. Penggunaan standar internasional dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memastikan biaya proyek tetap efisien.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Levelized Cost of Energy (LCOE), yaitu metode yang lazim digunakan secara global untuk menghitung biaya produksi listrik sepanjang umur proyek.
“Kalau biaya proyek jauh di atas standar internasional, tentu harus dipertanyakan. Di sinilah pentingnya transparansi dan pengawasan publik,” ujarnya.
Menurut dia, tata kelola yang akuntabel akan menjadi fondasi penting bagi percepatan investasi energi bersih di Indonesia.
BUMN dan Danantara Berpeluang Menjadi Motor Pengembangan
Marwan optimistis Indonesia memiliki kapasitas yang cukup untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui perusahaan-perusahaan milik negara.
Ia menyebut Pertamina Geothermal Energy, PLN, dan Geo Dipa Energi sebagai perusahaan yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk menjadi ujung tombak pengembangan geothermal nasional.
Selain itu, keberadaan Danantara dinilai dapat menjadi instrumen strategis dalam memperkuat pembiayaan proyek-proyek energi bersih.
“Kalau negara memiliki instrumen pembiayaan yang kuat, biaya modal bisa ditekan sehingga listrik yang dihasilkan menjadi lebih murah dan manfaatnya kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Buka Lapangan Kerja dan Dorong Ekonomi Daerah
Tidak hanya berkontribusi terhadap penyediaan energi bersih, pengembangan panas bumi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
Marwan menilai proyek geothermal dapat membuka lapangan kerja baru, memperkuat usaha mikro dan koperasi lokal, serta menciptakan berbagai aktivitas ekonomi produktif di daerah.
Karena itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap awal pengembangan menjadi faktor penting untuk memastikan manfaat proyek dapat dirasakan secara langsung.
“Seharusnya masyarakat dipersiapkan sejak awal, diberikan pemahaman, dilibatkan dalam kegiatan ekonomi, dan memperoleh manfaat langsung dari proyek yang dibangun,” katanya.
Momentum Besar Menuju Masa Depan Energi Bersih
Dengan potensi mencapai 27 GW, panas bumi dinilai dapat menjadi salah satu aset strategis Indonesia dalam membangun sistem energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.
Marwan menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen kuat untuk menjadikan panas bumi sebagai prioritas pembangunan energi nasional.
“Potensinya sangat besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian politik untuk menjadikan panas bumi sebagai prioritas energi nasional sekaligus memastikan pengelolaannya bersih dari kepentingan sempit,” pungkasnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















