Berita Geothermal – Pemerintah terus mendorong penguatan industri dalam negeri guna mendukung transisi energi bersih. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyebut panas bumi sebagai salah satu sektor strategis yang diproyeksikan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kontribusi energi panas bumi ke depan sangat penting. Dalam RUKN (Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional-Red) dan RUPTL, target pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai hingga 8 persen sangat bergantung pada industri manufaktur dalam negeri,” kata Eniya dalam acara Economic Update Energy Edition yang digelar CNBC, Selasa (8/7/2025).
Menurut Eniya, kebutuhan proyek panas bumi dengan kapasitas 5,2 GW dalam RUPTL akan mendorong pertumbuhan industri manufakturnya, di antaranya komponen seperti turbin, heat exchanger, dan pipa. Industri-industri ini bisa menjadi pemicu kebangkitan industri manufaktur nasional.
Eniya mengungkapkan bahwa Indonesia pernah berhasil memproduksi turbin dengan TKDN mencapai 63 persen, namun produksi tersebut tidak berlanjut karena saat itu belum ada permintaan yang cukup dari sektor panas bumi.
“Sekarang dengan target operasional pembangkit panas bumi sebesar 5,2 GW sesuai RUPTL, harapannya industri kita bisa mengisi kebutuhan itu,” lanjutnya.
Dua Perusahaan Nasional Unggul Produksi Turbin
Meskipun Eniya tak menjelaskan perusahaan mana saja, dirangkum dari berbagai sumber, terdapat dua perusahaan dalam negeri yang memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan turbin panas bumi, yaitu PT Barata Indonesia (Persero) dan PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP).
PT Barata Indonesia, BUMN yang bergerak di bidang manufaktur, telah lama memproduksi komponen penting turbin seperti condenser, blade ring, dan combustion chamber.
Barata juga telah mengekspor komponen pembangkit ke Australia dan Pakistan, serta mengakuisisi pabrik Siemens Power and Gas-Turbine Components di Cilegon untuk memperkuat kemampuannya.
Sementara itu, PT NTP yang merupakan anak usaha PT Dirgantara Indonesia, dikenal sebagai pusat unggulan di bidang perawatan dan rekayasa turbin gas dan rotating equipment.
Meski fokus utama mereka bukan di sektor panas bumi, kapabilitas teknis NTP dinilai sangat mendukung pengembangan ekosistem energi bersih nasional.
Dorong TKDN dan Kemandirian Energi
Pemerintah menargetkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam proyek energi terbarukan, sebagai upaya menciptakan nilai tambah ekonomi di dalam negeri. Selain mengurangi impor, penguatan manufaktur lokal juga diharapkan membuka lebih banyak lapangan kerja dan mempercepat kemandirian teknologi.
Dengan meningkatnya demand dari sektor panas bumi, industri seperti Barata dan NTP bisa menjadi motor penggerak rantai pasok energi bersih nasional.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















