Berita Geothermal – Malaysia mulai menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan energi panas bumi sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. Langkah ini ditandai dengan digelarnya Konferensi Panas Bumi Internasional Malaysia (MIGC) pertama, yang berlangsung di kampus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Selangor, beberapa bulan lalu.
Acara ini mempertemukan para pakar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu pionir energi panas bumi di kawasan Asia Tenggara.
Pakar panas bumi Indonesia yang diundang Malaysia di antaranya Yunus Daud dari Universitas Indonesia (UI). Yunus menjadi pembicara utama dalam Konferensi Panas Bumi Internasional Malaysia (MIGC) yang pertama.
Selain itu, Malaysia pun secara resmi mendirikan Asosiasi Panas Bumi Malaysia (Malaysia Geothermal Association/MyGA), yang dipimpin oleh Prof. Ts. P.Geol. Dr. Mohd Hariri bin Arifin dari UKM.
MyGA menjadi wadah profesional yang mengadvokasi dan mendorong pengembangan panas bumi di negara tersebut. Dalam sambutannya, Dr. Hariri menegaskan pentingnya kolaborasi regional dan keterlibatan pakar asing dalam membangun fondasi panas bumi yang kuat di Malaysia.
Menariknya, Indonesia turut ambil bagian dalam pengembangan panas bumi di Malaysia. Melalui kerja sama antara UKM dan NewQuest Geotechnology, sebuah perusahaan berbasis di Indonesia, dilakukan studi geofisika di beberapa lokasi potensial, seperti Ulu Slim di utara Kuala Lumpur.
Kolaborasi ini dinilai penting karena Malaysia saat ini belum memiliki kontraktor lokal untuk survei magnetotellurik (MT), sebuah metode penting dalam eksplorasi panas bumi.
Ketertarikan Malaysia terhadap panas bumi sebenarnya bukan hal baru. Proyek perintis di Apas Kiri, Sabah, pernah digarap namun terbengkalai setelah menghadapi berbagai kendala teknis dan pendanaan.
Kini, semangat itu kembali menyala. Lokasi-lokasi baru seperti Ulu Slim dan mata air panas Lojing di Dataran Tinggi Lojing sedang dikaji serius. Bahkan, sumur dangkal telah dibor di Lojing hingga 138 meter, menghasilkan air panas bersuhu sekitar 78 °C, dengan rencana pengeboran lebih dalam menggunakan tenaga ahli berpengalaman.
Sebagai negara yang dikelilingi oleh pusat-pusat panas bumi aktif seperti Indonesia, Filipina, Taiwan, dan Thailand, Malaysia kini memanfaatkan posisi geografisnya untuk memulai kembali langkah-langkah strategis di sektor ini.
Dengan menggandeng para pakar Indonesia yang telah lama berkecimpung di bidang panas bumi, Malaysia berharap mampu mempercepat realisasi pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama mereka dalam waktu dekat. Kolaborasi antarnegara ini tidak hanya menunjukkan semangat integrasi energi regional, tetapi juga membuka peluang investasi dan inovasi bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.***
Sumber: ThinkGeoEnergy
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















