Berita Geothermal — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menegaskan bahwa energi panas bumi (geothermal) merupakan salah satu sektor investasi paling menjanjikan dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
“Jika kita melihat dari berbagai sumber EBT seperti tenaga surya, air, dan bioenergi, potensi terbesar dan paling menarik justru ada di panas bumi. Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia, terutama di wilayah Jawa dan Sumatera,” kata Rosan saat berbicara di International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta, Kamis (12/6).
Menurut Rosan, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menilai, jika tidak segera diaktifkan, peluang besar ini justru akan terbuang sia-sia dan membuat Indonesia tertinggal dalam transisi energi yang kini menjadi agenda global.
Selain berkontribusi pada transisi energi hijau, investasi di sektor EBT disebut Rosan dapat membuka lapangan kerja baru yang ramah lingkungan dan memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya lokal. Ia pun mengajak investor domestik maupun asing untuk bersama-sama membangun proyek energi bersih di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan akses terbatas namun menyimpan potensi besar.
Pada akhir Maret 2025 lalu, Rosan yang juga menjabat CEO Danantara, menggelar pertemuan dengan perwakilan PT Pertamina dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk guna membahas pengembangan panas bumi di Indonesia. Langkah ini diyakini sebagai kunci penting dalam mendorong investasi, hilirisasi, dan kemandirian energi menuju Indonesia Emas 2045.
Potensi EBT Indonesia Masih Minim Termanfaatkan
Dalam paparannya di ICI 2025, Rosan mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang sangat besar, mencapai 3.700 gigawatt (GW). Namun kapasitas pembangkit listrik dari EBT yang terpasang saat ini baru sekitar 15 GW, atau kurang dari 1% dari total potensi.
Potensi terbesar berasal dari tenaga surya, yakni mencapai 3.294 GW, namun yang sudah termanfaatkan baru 0,91 GW. Diikuti oleh tenaga hidro (95 GW, termanfaatkan 7,05 GW), bioenergi (57 GW, termanfaatkan 3,66 GW), tenaga angin (155 GW, termanfaatkan 0,152 GW), dan pasang surut laut (63 GW, belum termanfaatkan sama sekali).
Sementara itu, potensi panas bumi mencapai 23 GW, namun baru 2,65 GW yang dimanfaatkan. Kawasan dengan potensi tertinggi berada di sepanjang Ring of Fire, seperti Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.
“Panas bumi menjadi sektor yang sangat potensial untuk digarap lebih serius. Jika ingin mempercepat transisi energi, maka geothermal harus menjadi prioritas,” tegas Rosan.
Pemerintah Siapkan Deregulasi dan Reformasi
Untuk mempercepat pemanfaatan potensi EBT, terutama panas bumi, Rosan menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan reformasi kebijakan, regulasi, dan birokrasi. Salah satu langkah konkret yang tengah dilakukan adalah pembentukan Satuan Tugas Deregulasi untuk menciptakan iklim investasi dan industri yang lebih kondusif.
“Kami ingin memastikan proses perizinan dan regulasi tidak menjadi penghambat. Jika tidak disiapkan dari sekarang, potensi besar ini hanya akan tinggal sebagai data di atas kertas,” ujarnya.
Rosan berharap dengan iklim investasi yang lebih ramah dan birokrasi yang efisien, Indonesia dapat menjadi tujuan utama investasi energi hijau dunia, dengan panas bumi sebagai tulang punggungnya.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















