Berita Geothermal — Raksasa industri Jepang, Mitsubishi Corporation kembali berencana melakukan investasi di sektor energi hijau Indonesia, khususnya panas bumi. Hal itu diungkapkan pihak Mitsubishi dalam pertemuan dengan CEO BP Danantara Rosan Roeslani di Jakarta beberapa hari lalu.
Hadir dalam pertemuan ini Chief Operating Officer LNG Asia-Pacific Division, Environmental Energy Group Mitsubishi Corporation, Mr. Gen Kunihiro serta perwakilan entitas afiliasi seperti PT Donggi Senoro LNG dan PT Diamond Gas Management Indonesia.
Mr. Gen Kunihiro menyampaikan komitmen perusahaannya terhadap transisi menuju ekonomi hijau dan digital di Indonesia.
“Mr. Gen Kunihiro menyatakan ketertarikan Mitsubishi untuk terlibat lebih dalam dalam proyek-proyek transisi energi, terutama di sektor geothermal,” ungkap Rosan melalui unggahan di media sosialnya, dikutip Selasa (29/7).
Rosan juga menambahkan bahwa rencana investasi Mitsubishi ini sejalan dengan nota kesepahaman yang sebelumnya telah ditandatangani antara BP Danantara dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) di Jepang. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pengungkit investasi Jepang yang lebih luas dan berdampak langsung pada pengembangan proyek panas bumi di tanah air.
Rekam Jejak Investasi Jepang di Panas Bumi Indonesia
Mitsubishi Corporation bukan pemain baru di sektor energi Indonesia. Sejak 2012, perusahaan ini telah memasuki bisnis panas bumi dengan mengakuisisi 20% saham Star Energy Geothermal Pte Ltd (SEGPL), yang mengelola proyek Wayang Windu Geothermal Power Plant berkapasitas sekitar 420 MW di Jawa Barat.
Terbaru, pada Oktober 2024, Mitsubishi Power—unit usaha Mitsubishi Heavy Industries—ditunjuk untuk menggarap proyek retrofit turbin steam Unit 3 di PLTP Darajat, Jawa Barat. Proyek ini akan meningkatkan output dari 121 MW menjadi 129 MW dan dijadwalkan rampung pada 2026.
Selain itu, pada Desember 2022, Mitsubishi Power bersama konsorsium Mitsubishi Corporation, SEPCO III, dan WIKA membangun PLTP Lumut Balai II berkapasitas 55 MW di Sumatra Selatan.
Selain Mitsubishi, perusahaan Jepang lainnya seperti INPEX dan Sumitomo juga aktif menanamkan investasi di sektor geothermal Indonesia. INPEX, misalnya, telah aktif sejak 2011 melalui akuisisi proyek-proyek strategis, termasuk 49% saham Medco Power (2015) yang memiliki sebagian proyek Sarulla—salah satu fasilitas panas bumi terbesar di dunia.
INPEX juga memiliki 30% saham di proyek Muara Laboh, setelah menambah porsi dari ENGIE SA pada 2022. Di proyek Rantau Dedap, INPEX mengakuisisi 27,4% saham, serta masuk ke proyek Rajabasa di Lampung dengan kepemilikan 31,45%.
Melalui kemitraan antara Sumitomo Corporation dan INPEX, saat ini sedang dikembangkan ekspansi Muara Laboh Unit 2 (~83 MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2027. Proyek ini mendapat pembiayaan jumbo senilai sekitar USD 370 juta, yang didukung JBIC, NEXI, ADB, Mizuho, MUFG, SMBC, dan Hyakugo Bank. NEXI bahkan menanggung risiko politik dan komersial sebesar USD 139 juta.
Proyek Unit 2 Muara Laboh ini menjadi bagian dari platform Asia Zero Emission Community (AZEC), dengan komitmen pendanaan mencapai USD 500 juta (setara Rp 8,2 triliun). Ini mencerminkan tekad bilateral Jepang–Indonesia dalam mempercepat transisi energi bersih di kawasan Asia.
Pertemuan antara BP Danantara dan Mitsubishi Corporation menunjukkan bahwa proyek-proyek geothermal Indonesia semakin menunjukkan prospek cerah, baik dari sisi energi berkelanjutan maupun daya tarik investasi global.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















