Berita Geothermal — Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak Unit 7 di Bogor, Jawa Barat, merupakan salah satu dari lima proyek panas bumi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada akhir Juni 2025 lalu.
Proyek berkapasitas 40 MW ini ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada Desember 2026.
Untuk mewujudkan proyek strategis ini, BREN menggandeng dua entitas nasional, yakni PT Timas Suplindo dan BUMN di bidang konstruksi PT Rekayasa Industri (Rekind). Dalam PLTP Salak Unit 7, kedua perusahaan berkolaborasi dalam bentuk Joint Operation (JO) Timas-Rekind.
JO ini dipercaya sebagai kontraktor EPCI (Engineering, Procurement, Construction, Installation, and Commissioning) bersama Star Energy Geothermal selaku pengelola wilayah kerja panas bumi Salak.
Rekam Jejak Rekind
Bagi Rekind, keterlibatan dalam PLTP Salak 7 memperkuat portofolio panjang perusahaan di sektor panas bumi. Hingga kini, Rekind telah sukses menyelesaikan 16 proyek PLTP dengan total kapasitas 990,4 MW di berbagai daerah Indonesia.
Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, menegaskan komitmen perusahaan untuk selalu menghadirkan proyek EPC yang mengutamakan inovasi dan kolaborasi.
Menurutnya, efisiensi menjadi kunci dalam setiap pekerjaan EPC, termasuk melalui pemilihan teknologi, peralatan, dan konfigurasi yang menghasilkan net power output optimal.
“Kami selalu berusaha memberikan hasil melebihi persyaratan kontrak kerja, termasuk dalam teknologi ramah lingkungan untuk memaksimalkan energi panas bumi sekaligus menekan potensi emisi,” jelas Triyani dikutip Jumat (12/9).
Peran Timas Suplindo
Sementara itu, PT Timas Suplindo membawa pengalaman luas dalam sektor konstruksi energi, baik di dalam maupun luar negeri. Dalam proyek Salak Unit 7, Timas menjadi mitra strategis Rekind dalam Joint Operation Timas-Rekind yang bertindak sebagai kontraktor utama EPCI.
Perusahaan ini berkomitmen untuk memastikan setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai standar keselamatan, kualitas, dan target waktu.
Sebagai bagian dari pengembangan proyek, JO Timas-Rekind bersama Star Energy Geothermal baru-baru ini menggelar HAZID, HAZOP & SIL Classification Workshop di Bogor.
Forum teknis ini berfungsi untuk memastikan standar keselamatan proyek selalu berada pada tingkat tertinggi.
• HAZID (Hazard Identification): tahap awal untuk mengenali potensi bahaya sejak fase desain hingga operasional.
• HAZOP (Hazard and Operability Study): analisis detail deviasi proses, seperti tekanan berlebih atau gangguan aliran, yang dilakukan tim lintas disiplin.
• SIL Classification (Safety Integrity Level): penentuan tingkat keandalan sistem pengaman dengan skala SIL 1 hingga SIL 4.
Dengan melibatkan para ahli dari berbagai bidang, workshop ini tidak hanya menjadi forum teknis, tetapi juga sarana kolaborasi strategis demi terciptanya operasi PLTP Salak Unit 7 yang aman, andal, dan berkelanjutan.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















