Berita Geothermal — Cipanas, Garut, yang kini dikenal sebagai kawasan pemandian air panas populer di Jawa Barat, ternyata sudah menarik perhatian sejak lebih dari dua abad lalu. Sejak zaman Hindia Belanda, mata air panas di kaki Gunung Guntur ini telah menjadi saksi bisu awal mula interaksi manusia dengan potensi panas bumi secara langsung—baik untuk rekreasi, penyembuhan, maupun eksplorasi ilmiah.
Salah satu catatan tertua tentang Cipanas datang dari seorang pelukis sekaligus naturalis Belgia bernama Auguste Antoine Joseph Payen (1792–1853). Sosok ini bukan sekadar seniman. Ia adalah pelukis resmi Kerajaan Belanda yang pernah mendampingi ekspedisi ilmuwan ternama C.G.C. Reinwardt di Hindia Belanda. Payen juga dikenal sebagai guru melukis Raden Saleh, pelukis pribumi legendaris Indonesia.
Tinggal di Jawa dari 1818 hingga 1826 dan sempat menetap di Bandung, Payen mencatat pengalamannya menjelajahi dataran tinggi Priangan dalam berbagai catatan perjalanan. Salah satunya berjudul Voyage Vers le Gunung Guntur en 1818, yang kemudian disunting oleh Marie-Odette Scalliet dan diterbitkan dalam buku Antoine Payen: Peintre des Indes orientales (1995).
Dalam catatannya pada 28 Oktober 1818, Payen menggambarkan suasana Tarogong dan sekitarnya setelah perjalanannya dari Cicalengka, Leles, hingga Kampung Baros. Ia menyebutkan sebuah danau kecil bernama “Tjipanasse” (Cipanas), yang dilalui oleh sungai bersuhu hangat karena bersumber dari gunung. Suasana kawasan itu digambarkan berlumpur dengan batu-batu yang diyakini sebagai hasil muntahan aktivitas vulkanik Gunung Guntur.

Suasana Cipanas Garut tahun 1800-an dalam lukisan penjelajah Eropa Auguste Antoine Joseph Payen
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 4 November 1818, Payen menuliskan pengalamannya mengunjungi langsung mata air panas Cipanas. Ia mencatat bahwa suhu airnya mencapai 106 derajat Fahrenheit, atau sekitar 41,1 derajat Celsius. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah sebuah batu besar mencolok yang menyatu dengan pohon di atasnya, menciptakan lanskap alami yang eksotis. Jalan menuju lokasi itu juga disebutkan menyuguhkan pemandangan indah yang tak terlupakan.
Tak hanya mencatat suhu dan kondisi geografis, Payen juga menggambar deretan gunung di sekitar Garut, termasuk Gunung Papandayan yang kala itu dikenal sebagai sumber belerang dan kawah aktif yang mengepulkan asap hingga terlihat dari kejauhan.
Catatan Payen bukan hanya dokumentasi ilmiah atau artistik belaka. Ia memberikan bukti otentik bahwa Cipanas Garut telah menjadi bagian dari pemanfaatan panas bumi jauh sebelum istilah “geothermal” populer di kalangan ilmuwan. Cipanas bukan sekadar lokasi pemandian modern, melainkan situs historis yang telah menarik minat penjelajah, seniman, dan ilmuwan sejak awal abad ke-19.
Dengan kisah ini, kita diajak menelusuri jejak masa lalu yang masih terasa hangat hingga kini—secara harfiah dan historis. Dari aliran air hangatnya yang menenangkan hingga lukisan dan catatan Payen yang menggambarkan pesonanya, Cipanas tetap menjadi warisan alami yang tak lekang oleh waktu.***
Sumber: Badan Geologi
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















