Garut, Berita Geothermal – Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX:PGEO) Area Kamojang pada Sabtu (10/05/2025).
Kunjungan ini meninjau langsung potensi energi panas bumi serta implementasi prinsip keberlanjutan yang dijalankan di wilayah Taman Wisata Alam (TWA) Kamojang, yang merupakan bagian dari pengelolaan PGE Area Kamojang.
Dalam kunjungan ini, Menteri Kehutanan beserta rombongan meninjau fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Unit 4 dan Unit 5 untuk melihat langsung sarana dan prasarana pembangkit panas bumi, serta proses pemanfaatan energi panas bumi menjadi energi listrik bersih dan andal.

Sebagai bagian dari kemitraan jangka panjang PGE bersama Kementerian Kehutanan, kunjungan dilanjutkan ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), sebuah program kolaboratif yang telah berjalan sejak 2014 dan berfokus pada pelestarian burung elang endemik Indonesia di kawasan hutan Kamojang.
“Kami melepas dua elang Jawa, yang diberi nama Emilia dan Biantara, yang merupakan hasil konservasi dan rehabilitasi. Pelepasan elang ini menandai komitmen kami terhadap konservasi satwa liar dan ekosistem hutan. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN dan masyarakat, sangat penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah pengembangan energi nasional,” ujar Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni.
Sejalan dengan itu, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Julfi Hadi, menyampaikan apresiasi atas kunjungan ini sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Panas bumi adalah energi bersih masa depan, dan keberadaannya erat dengan kawasan hutan. Kolaborasi antara sektor energi dan kehutanan menjadi sangat krusial untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan,” ujar Julfi.
Dalam kegiatan ini, rombongan juga mengunjungi Geothermal Information Center (GIC) untuk mendapatkan paparan mengenai potensi dan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, serta sejarah dan peran strategis Kamojang sebagai salah satu pionir pengembangan geotermal terbesar dan terbaik di Indonesia.
Menteri Raja Juli Antoni juga mencicipi Canaya Geothermal Coffee, produk program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PGE Area Kamojang, di mana biji kopi dikeringkan menggunakan geothermal dryhouse, sebuah rumah pengering bertenaga panas bumi yang ramah lingkungan.
General Manager PGE Area Kamojang, I Made Budi Kesuma Adi Putra, menambahkan bahwa kunjungan ini menjadi bentuk pengakuan atas komitmen PGE Area Kamojang dalam menjaga keseimbangan antara operasional energi dan konservasi lingkungan.
“Kami terus berupaya menjalankan operasi yang tidak hanya andal dan efisien, tetapi juga harmonis dengan ekosistem sekitar. Program seperti Canaya Geothermal Coffee dan Pusat Konservasi Elang Kamojang adalah contoh konkret sinergi antara panas bumi dan pelestarian lingkungan,” ungkap Made.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi Kementerian Kehutanan, termasuk Sekretaris Jenderal, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Dirjen Planologi Kehutanan, Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), Plt Dirjen Perhutanan Sosial, Kepala BBKSDA Jawa Barat, Sub Holding Pertamina New & Renewable Energy, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, dan mitra terkait lainnya.
Kunjungan ini memperkuat sinergi antara sektor energi dan kehutanan dalam mendorong transisi energi bersih sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Tentang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi.
Saat ini PGE mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi dan 1 Wilayah Kerja Penugasan dengan kapasitas terpasang sebesar 1.877 MW, terbagi 672,5 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 80% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,7 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai world class green energy company, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060.
PGE memiliki kredensial ESG yang sangat baik dengan 16 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai 2023 dalam penghargaan kepatuhan lingkungan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Peringkat & Keterlibatan ESG.*
Baca juga :
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















