Berita Geothermal – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional dalam bidang energi terbarukan, khususnya panas bumi.
Lewat ajang Renewable Energy Innovation Competition yang merupakan bagian dari ReEnergize Summit 2025 garapan Society of Renewable Energy Universitas Indonesia (SRE UI), tim mahasiswa ITB berhasil meraih Juara 1 berkat inovasi mereka dalam pengembangan teknologi panas bumi.
Tim yang menamakan diri ITB Santuy, terdiri dari Bondan Attoriq dan Muhammad Xavier El Gibraltar Ellion dari Program Studi Teknik Metalurgi, serta Akira Neutriansyah dari Program Studi Fisika.
Mereka mengusung karya berjudul “EGSmart 1.0: Enhanced Geothermal System (EGS) Drilling Optimization Based on Multi-Model Machine Learning with 30 Driving Factors.”
Inovasi utama mereka adalah sistem EGSmart, sebuah platform berbasis machine learning, khususnya ensemble learning, yang dirancang untuk mengoptimalkan proses pengeboran pada teknologi Enhanced Geothermal System (EGS)—sebuah pendekatan eksplorasi panas bumi pada batuan berkedalaman tinggi dengan permeabilitas rendah.
Pengeboran merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan EGS, di mana biaya pengeboran dapat mencapai hingga 60% dari total biaya proyek. EGSmart hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan memanfaatkan 30 variabel input dari proses pengeboran, untuk memprediksi dan mengoptimalkan Rate of Penetration (ROP) secara lebih akurat.
Sistem ini diuji melalui studi kasus nyata pada sumur pionir UTAH 16B(78)-32 di Amerika Serikat. Dengan fitur monitoring real-time, kontrol parameter pengeboran yang presisi, serta analisis tren untuk mitigasi kesalahan (fault), EGSmart diyakini mampu memberikan efisiensi signifikan dan menekan biaya pengembangan proyek EGS.
Meski harus menghadapi jadwal padat akibat bentroknya persiapan presentasi final dengan Ujian Akhir Semester (UAS), tim ITB Santuy tetap mampu tampil maksimal. Mereka berhasil mengatur waktu dengan efektif dan mempertahankan komunikasi serta komitmen dalam setiap tahap kompetisi.
“Fokus, percaya diri, dan hilangkan perasaan gugup dan ragu. Juri bisa membedakan siapa yang benar-benar menguasai inovasinya dan siapa yang ragu-ragu,” ujar Bondan, mewakili tim.
Tim berharap EGSmart dapat terus dikembangkan hingga tahap implementasi, khususnya di Indonesia, yang memiliki potensi panas bumi besar namun belum tergarap secara optimal.
Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, inovasi ini membuka peluang baru dalam mendorong efisiensi dan keberlanjutan energi panas bumi nasional.***
Sumber: ITB
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















