Jakarta, Beritageothermal.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mendapatkan komitmen pendanaan internasional senilai 477,87 juta dollar AS atau sekitar Rp8,6 triliun untuk mengembangkan tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan total kapasitas 160 megawatt (MW).
Tambahan kapasitas tersebut setara dengan kemampuan memasok kebutuhan listrik ratusan ribu rumah tangga dan menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional.
Pendanaan yang berasal dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Bank Dunia itu akan digunakan untuk mengembangkan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 di Sumatera Selatan serta PLTP Lahendong Unit 7-8 di Sulawesi Utara.
Ketiga proyek tersebut terdiri atas PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW dengan pendanaan 158,86 juta dollar AS, PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW dengan dukungan dana 148,97 juta dollar AS, serta PLTP Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW yang memperoleh pembiayaan 170,04 juta dollar AS dari Bank Dunia.
Secara total, nilai investasi yang diperoleh PGE setara sekitar Rp53,7 miliar untuk setiap megawatt kapasitas listrik yang akan dibangun. Angka ini menunjukkan besarnya kebutuhan investasi pada sektor panas bumi yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber energi bersih paling stabil, tetapi memerlukan biaya eksplorasi dan pengembangan yang tinggi.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperbesar kapasitas panas bumi nasional hingga mencapai 3 gigawatt (GW).
“Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari roadmap PGE untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga tiga gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional,” ujar Ahmad Yani.
Panas Bumi Jadi Andalan Energi Bersih
Indonesia saat ini merupakan salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Potensi sumber daya panas bumi nasional diperkirakan mencapai lebih dari 23 GW, namun yang telah dimanfaatkan masih sebagian kecil dari total potensi yang tersedia.
Karena itu, pengembangan proyek-proyek baru menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis bahan bakar fosil sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon.
Berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung pada kondisi cuaca, panas bumi mampu menghasilkan listrik selama 24 jam penuh sehingga menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang paling stabil untuk menopang sistem kelistrikan nasional.
Masuk Green Book 2026
Keberhasilan memperoleh pendanaan internasional tidak terlepas dari masuknya ketiga proyek tersebut ke dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.
Green Book merupakan daftar proyek prioritas nasional yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri dan dinilai memenuhi berbagai persyaratan teknis, finansial, lingkungan, serta kelembagaan.
Sebelum masuk Green Book, proyek-proyek tersebut juga telah tercantum dalam Blue Book Bappenas atau Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025-2029.
Menurut Ahmad Yani, pencapaian tersebut menjadi indikator bahwa proyek telah siap memasuki tahap pengembangan berikutnya.
“Capaian ini mencerminkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya, seiring dengan kinerja bisnis dan operasional perseroan yang terus menunjukkan pertumbuhan positif,” katanya.
Kinerja PGE Tumbuh Signifikan
Di tengah ekspansi bisnis yang terus berjalan, PGE juga membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang cukup kuat pada awal 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, perusahaan mencatat laba bersih sebesar 43,90 juta dollar AS atau melonjak 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 31,35 juta dollar AS.
Pendapatan perusahaan juga meningkat dari sekitar 101,5 juta dollar AS menjadi 116,56 juta dollar AS atau tumbuh 14,8 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan produksi listrik yang terus mencatat tren positif. Pada 2025, PGE membukukan produksi listrik tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan total output mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh).
Rekor tersebut berlanjut pada kuartal pertama 2026 ketika produksi listrik meningkat 15,22 persen secara tahunan menjadi 1.370 GWh.
Dengan capaian tersebut, PGE tidak hanya memperkuat posisi sebagai produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia, tetapi juga menunjukkan meningkatnya kontribusi energi panas bumi dalam mendukung ketahanan energi nasional.
“Masuknya proyek ke dalam green book menjadi tonggak penting menuju implementasi dan pengembangan lanjutan,” ujar Ahmad Yani.
Jika seluruh proyek berjalan sesuai target, kapasitas tambahan 160 MW yang mulai beroperasi pada periode 2030-2032 akan menjadi bagian penting dalam mempercepat transisi energi Indonesia menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih, berkelanjutan, dan rendah emisi karbon.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















