Jakarta, Beritageothermal.com – Masyarakat diminta tidak khawatir terhadap dampak operasional proyek panas bumi atau geothermal terhadap sumber air. Ahli vulkanologi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Nana Sulaksana, M.SP., menegaskan bahwa lapisan pengeboran panas bumi berada jauh di bawah sumber air tanah yang digunakan warga sehari-hari.
“Pengeboran dilakukan pada kedalaman reservoir antara 1.500 hingga 3.000 meter di bawah permukaan tanah. Sementara sumber air warga umumnya berada di kedalaman 100 hingga 200 meter. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh batuan penutup kedap air, sehingga tidak saling memengaruhi,” dikutip, Kamis (28/05)
Penjelasan itu disampaikan di tengah masifnya pengembangan energi panas bumi di Jawa Barat yang kini diproyeksikan menjadi salah satu pusat energi bersih nasional menuju target Net Zero Emission 2060.
Sebagai provinsi dengan cadangan geothermal terbesar di Indonesia, Jawa Barat dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung kebutuhan listrik rendah emisi yang stabil dan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun terus memperkuat kajian ilmiah guna memastikan pengembangan panas bumi berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Nana menjelaskan, pembangkit listrik tenaga panas bumi menggunakan teknologi sistem tertutup atau closed-loop system. Sistem tersebut memungkinkan fluida panas bumi yang telah dimanfaatkan dikembalikan kembali ke dalam bumi melalui sumur reinjeksi sehingga tidak mencemari lingkungan maupun mengurangi cadangan air masyarakat.
Dengan mekanisme itu, aktivitas operasional pembangkit dinilai tetap aman bagi ekosistem di sekitar kawasan proyek.
Selain itu, aktivitas geothermal disebut berbeda dengan pertambangan terbuka karena tidak membutuhkan pembukaan lahan dalam skala besar.
“Pembangkit listrik tenaga panas bumi menggunakan sistem perpipaan khusus yang minim pembukaan lahan dan berbeda dengan tambang terbuka. Selain itu, seluruh aktivitas dipantau melalui sistem seismik digital selama 24 jam,” katanya.
Prinsip keberlanjutan tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah pengembangan geothermal di Jawa Barat.
PLTP Kamojang di wilayah Garut dan Kabupaten Bandung, misalnya, telah beroperasi sejak 1982 dan menjadi salah satu pionir panas bumi nasional. Operasional di kawasan itu berjalan berdampingan dengan program konservasi lingkungan, termasuk perlindungan satwa endemik seperti Owa Jawa dan Elang Jawa.
Di kawasan tersebut juga dilakukan penanaman ribuan pohon untuk menjaga fungsi resapan air hutan agar tetap terjaga.
Tak hanya berfokus pada produksi listrik, Kamojang kini mulai mengembangkan inovasi Hydrogen of Things melalui pemanfaatan sisa air operasional untuk menghasilkan Green Hydrogen sebagai energi bersih masa depan.
Sementara itu, aktivitas geothermal di kawasan Wayang Windu, Perkebunan Teh Malabar, disebut tetap berjalan harmonis dengan sektor perkebunan dan ekowisata masyarakat tanpa mengganggu produktivitas warga sekitar.
Di kawasan Ciwidey, PLTP Patuha juga mengembangkan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan kopi dan pembinaan kelompok tani lokal.
Program tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekaligus menjaga tutupan vegetasi hutan di sekitar kawasan operasional.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam pengembangan geothermal di Jawa Barat. Dengan potensi cadangan panas bumi yang besar, provinsi ini dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih Indonesia.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















