Jakarta, Beritageothermal.com – Potensi energi panas bumi dinilai dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus meminimalkan risiko terjadinya pemadaman listrik berskala besar atau blackout.
Pengamat energi Feiral Rizky Batubara mengatakan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) memiliki karakteristik yang mampu menopang keandalan pasokan listrik karena dapat beroperasi secara stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
“Menurut saya, panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” kata Feiral dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.
Menurut Feiral, meningkatnya kebutuhan listrik nasional harus diimbangi dengan penguatan sistem pembangkit yang mampu memasok energi secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, panas bumi dinilai memiliki keunggulan karena mampu menyediakan pasokan listrik secara konstan.
Ia menegaskan bahwa upaya mencegah blackout tidak cukup hanya mengandalkan satu teknologi, melainkan harus menjadi bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional.
“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” ujarnya.
Cadangan Panas Bumi Indonesia Capai 24 GW
Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Total cadangan yang dimiliki diperkirakan mencapai sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen cadangan panas bumi dunia.
Besarnya potensi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan bauran energi bersih di masa depan.
Meski demikian, pemanfaatannya masih tergolong rendah. Dari total potensi sekitar 24 GW, kapasitas yang telah dimanfaatkan baru mencapai sekitar 2,7 GW atau sekitar 12 persen. Artinya, peluang pengembangan panas bumi masih terbuka sangat luas.
Feiral menilai pengembangan kapasitas panas bumi perlu terus didorong untuk memenuhi kebutuhan tambahan sekitar 2,5 GW dalam satu dekade mendatang. Sementara itu, target pengembangan sebesar 5,2 GW yang tercantum dalam RUPTL 2025–2034 dinilai cukup ambisius, namun masih sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional.
Tak Cukup Bangun PLTP, Infrastruktur Listrik Juga Harus Diperkuat
Menurut Feiral, pembangunan PLTP tidak bisa dilakukan secara terpisah dari penguatan sistem kelistrikan nasional. Pengembangan pembangkit harus dibarengi dengan peningkatan jaringan transmisi dan distribusi agar pasokan listrik dapat tersalurkan secara optimal.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penambahan cadangan daya, pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, hingga diversifikasi sumber energi sebagai bagian dari strategi memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Di sisi lain, pengembangan panas bumi masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya kebutuhan investasi awal, persoalan tarif keekonomian, proses perizinan yang belum sepenuhnya efisien, hingga kesiapan infrastruktur jaringan listrik.
Karena itu, Feiral menilai diperlukan kebijakan yang lebih kuat untuk mendorong percepatan pengembangan panas bumi. Dukungan tersebut meliputi skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, serta sinkronisasi antara pembangunan pembangkit dengan perencanaan jaringan listrik nasional.
“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” ucapnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















