Yogyakarta, Beritageothermal.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Indonesia di bidang energi terbarukan. Tim Selokan Mataram yang berisi kolaborasi mahasiswa Teknik Geologi dan Teknik Mesin sukses meraih Juara 2 dalam ajang Geothermal Case Study Competition PETROLIDA 2026, kompetisi internasional yang berfokus pada pengembangan teknologi panas bumi.
Tim tersebut diperkuat Jihan Fathin Salsabila, Lailum Lutvi Sahrudin, Abdi Yuridan Arsya, serta Muhammad Nabil Hafiz dengan pendampingan Kartika Palupi Savitri.
Kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian Petroleum Integrated Days (PETROLIDA) 2026 itu diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers Institut Teknologi Sepuluh Nopember Student Chapter dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam ajang tersebut, peserta diminta menyusun strategi pengembangan lapangan panas bumi berbasis studi kasus industri secara menyeluruh, mulai dari analisis geologi, geokimia, geofisika, reservoir, desain fasilitas produksi, hingga aspek keekonomian proyek.
Tim Selokan Mataram tampil lewat gagasan pengembangan Lapangan Panas Bumi hipotetikal “THETA” di Sulawesi Tengah dengan mengusung konsep “Optimizing Geothermal Technology for Clean Energy”.
Mereka mengkaji potensi sistem panas bumi non-vulkanik yang dipengaruhi aktivitas sesar aktif dengan tantangan utama berupa rendahnya permeabilitas alami batuan metamorf. Sumber panas dalam sistem tersebut berasal dari intrusi granit yang menjadi fokus utama pengembangan reservoir.
Untuk menjawab tantangan itu, tim merancang metode hydroshearing guna mereaktivasi retakan alami di bawah permukaan agar aliran fluida panas bumi bersuhu 160 hingga 210 derajat celsius dapat bergerak lebih optimal menuju sumur produksi.
Tak berhenti pada sektor reservoir, tim juga mengintegrasikan desain fasilitas permukaan dengan pendekatan optimasi termodinamika pembangkit agar efisiensi operasional dapat ditingkatkan.
Mereka turut menyusun strategi mitigasi silica scaling melalui pengaturan suhu buang secara presisi guna mengurangi risiko penyumbatan pipa yang berpotensi mengganggu performa pembangkit panas bumi.
Dalam proposal pengembangannya, proyek dirancang secara bertahap melalui pembangunan pilot plant berkapasitas 15 MWe sebelum dikembangkan menjadi pembangkit komersial berkapasitas 85 MWe.
Pendekatan phased development tersebut dinilai mampu menekan risiko investasi sekaligus memvalidasi performa reservoir sejak tahap awal eksplorasi. Seluruh rancangan teknis kemudian dipadukan dengan analisis finansial untuk memastikan proyek tetap layak secara ekonomi dan menarik bagi investor.
Pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu kebumian dan sistem energi itu dinilai menjadi salah satu solusi inovatif dalam pengembangan panas bumi non-vulkanik yang lebih efisien dan berkelanjutan di Indonesia.
“Mengikuti Geothermal Case Study Competition PETROLIDA 2026 menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi tim karena kami benar-benar merasakan bagaimana proses pengambilan keputusan dalam pengembangan proyek panas bumi dilakukan secara nyata dan multidisiplin,” ungkap Tim Selokan Mataram.
Menurut mereka, kompetisi tersebut tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu dalam menghadapi tantangan industri energi bersih.
“Kami berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panas bumi,” lanjut mereka.
Tim Selokan Mataram juga berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia tertarik terlibat dalam riset dan inovasi energi bersih guna mendukung target Net Zero Emission dan masa depan energi berkelanjutan nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















