NTT, Berita Geothermal – Isu kemunculan lumpur panas di kawasan Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mencuat dan memicu beragam spekulasi. Namun, kalangan akademisi menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari proses alamiah yang tidak berkaitan dengan aktivitas proyek panas bumi.
Ahli geothermal Pri Utami menjelaskan, kemunculan mata air panas, uap dari permukaan tanah, hingga lumpur panas merupakan manifestasi alami dari sistem geothermal yang berada di bawah permukaan bumi.
“Manifestasi panas bumi adalah wujud atau ekspresi adanya potensi panas bumi di bawah permukaan. Di permukaan, ia muncul dalam bentuk mata air panas, tanah beruap, atau kolam lumpur panas yang meletup-letup. Itu terbentuk secara alamiah,” ujar Pri. Dikutip, Kamis (02/04/2026).
Ia menambahkan, lumpur panas terbentuk dari fluida geothermal di dalam reservoir yang mengalami pemanasan tinggi hingga mendidih. Fluida tersebut kemudian bergerak ke atas, dan saat mencapai lapisan batuan penudung, terjadi kondensasi yang membuat batuan melemah dan larut hingga membentuk lumpur.
Fenomena ini, menurutnya, memiliki karakter terbatas baik dari sisi wilayah maupun kedalaman, sehingga tidak dapat disamakan dengan peristiwa lumpur Lapindo yang berbeda secara geologis.
“Manifestasi geothermal terbatas di area tertentu dan kedalamannya dangkal. Ini juga bukan lumpur pemboran atau limbah pengeboran,” tegasnya.
Penjelasan ini mempertegas bahwa kemunculan lumpur di Mataloko bukan merupakan dampak dari aktivitas pengeboran, melainkan proses geologi yang telah terjadi jauh sebelum proyek geothermal berjalan.
Di tingkat lokal, warga juga menyampaikan pandangan serupa. Katharian Fono, warga Daratei, Desa Ulubelu, menilai informasi yang beredar terkait kemunculan lumpur di berbagai titik tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kalau ada yang mengatakan di sini tidak bisa menghasilkan dan lumpur muncul di mana-mana, itu tidak benar. Kami yang tinggal di sini mengetahui kondisi sebenarnya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kehadiran proyek panas bumi justru memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam peningkatan kesejahteraan dan peluang kerja.
“Dulu saya hidup dalam keterbatasan. Sekarang anak saya bekerja karena adanya geothermal ini. Saya bisa memiliki rumah yang lebih layak,” tuturnya.
Sementara itu, PT PLN (Persero) memastikan pengembangan geothermal di Mataloko dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan serta kelestarian lingkungan. General Manager UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menyatakan seluruh tahapan proyek berbasis kajian ilmiah dan diawasi secara ketat.
“Kami memastikan seluruh proses dilakukan berbasis kajian ilmiah dan pengawasan berlapis,” ujarnya.
PLN juga menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi dan membuka ruang dialog dengan masyarakat guna menghindari kesalahpahaman.
“Pengembangan geothermal merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi bersih yang andal bagi NTT, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” katanya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















