Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengungkapkan capaian kinerja keuangan dan operasional sepanjang tahun 2025 dalam agenda PGEO Earnings Call 2025 Full Year Results yang digelar di Jakarta, Selasa (10/3/2026). Dalam pemaparan tersebut, manajemen perusahaan juga menyoroti langkah strategis yang akan ditempuh untuk memperkuat pengembangan energi panas bumi ke depan.
Perseroan menyampaikan bahwa fokus utama strategi bisnis saat ini adalah mempercepat realisasi proyek-proyek panas bumi, memperluas portofolio co-generation, serta mengembangkan peluang usaha di luar sektor kelistrikan.
Direktur Keuangan PGE Yurizki Rio menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$432,73 juta.
“Capaian ini menunjukkan kinerja PGE yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan Perseroan yang kuat. Hal ini turut tercermin dari EBITDA Perseroan yang meningkat 1,94% secara tahunan menjadi US$330,35 juta dengan margin mencapai 76,34 persen. Melalui peningkatan tersebut, PGE menegaskan posisinya sebagai salah satu produsen energi panas bumi dengan tingkat profitabilitas tertinggi di dunia,” ungkap Yurizki.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi hingga akhir 2025, sejumlah indikator utama perusahaan tercatat positif. Pendapatan mencapai US$432,73 juta, sementara laba bersih berada di angka US$137,67 juta. Selain itu, nilai EBITDA tercatat US$330,35 juta, total aset sebesar US$3,03 miliar, serta kas dan setara kas mencapai US$718,50 juta.
Yurizki menambahkan bahwa kinerja tersebut mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang stabil meskipun PGE saat ini tengah memasuki fase transformasi untuk memperluas lini bisnisnya.
“Meskipun terdapat penurunan margin EBITDA yang terbatas merupakan konsekuensi dari fase transformasi untuk memperluas portofolio bisnis. Guna mendukung hal tersebut, saat ini PGE melakukan investasi strategis pada talenta, riset dan pengembangan, serta proyek eksplorasi yang mendukung target commercial operation date (COD) sekaligus menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang Perseroan,” katanya.
Selain capaian finansial, performa operasional PGE juga mencatatkan hasil yang signifikan. Sepanjang 2025, produksi listrik panas bumi perusahaan mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4.827 GWh.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan bahwa peningkatan produksi tersebut didukung oleh peningkatan faktor beban pembangkit serta tambahan kapasitas baru dari PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2025.
“Capaian ini didukung oleh realisasi faktor beban (load factor) yang lebih tinggi serta tambahan kapasitas terpasang sebesar 55 megawatt (MW) dari PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2025. Dengan tambahan tersebut, kapasitas terpasang Perseroan kini meningkat menjadi 727 MW dari sebelumnya 672 MW. Ke depan, PGE juga terus melakukan optimalisasi aset eksisting, mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan (future revenue streams),” terang Andi.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan bahwa perusahaan akan terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri panas bumi global.
“Melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang secara konsisten dijalankan, PGE optimistis dapat kembali mencatatkan rekor produksi tertinggi pada 2026. Perseroan memproyeksikan produksi listrik mencapai sekitar 5.255 GWh atau tumbuh sekitar 3,14 persen secara tahunan. Target tersebut didukung oleh upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja operasional sekaligus mengoptimalkan kapasitas pembangkit yang dikelola Perseroan,” ujarnya.
Andi Joko Nugroho menambahkan bahwa produksi listrik PGE berasal dari sejumlah wilayah operasi utama perusahaan.
“Kontribusi produksi tersebut antara lain berasal dari Kamojang yang diproyeksikan mencapai 1.806 GWh, Ulubelu 1.617 GWh, Lahendong 849 GWh, Lumut Balai 714 GWh, serta Karaha 109 GWh. Capaian ini didukung oleh tingkat reliabilitas sistem yang tetap tinggi, dengan ketersediaan pembangkit (availability factor) mencapai 98,93 persen, kapasitas (capacity factor) sebesar 86,58 persen, serta tingkat outage yang sangat rendah, yakni 0,41 persen. Ke depan, Perseroan akan terus meningkatkan produksi melalui optimalisasi operasional serta pengelolaan pembangkit yang semakin andal dan efisien,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengungkapkan bahwa empat proyek panas bumi milik PGE telah masuk dalam daftar proyek prioritas Blue Book 2025–2029 yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas.
Proyek tersebut mencakup Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary dengan total investasi yang diperkirakan melampaui US$1,09 miliar.
“Realisasi proyek-proyek ini diproyeksikan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi yang direncanakan beroperasi secara bertahap mulai 2029 hingga 2032. Hal ini sekaligus mempertegas komitmen Perseroan dalam mengembangkan potensi 3 gigawatt (GW) panas bumi yang dimiliki,” tutup Edwil.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















