Jakarta, Berita Geothermal – Panas bumi menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang terus dikembangkan Indonesia untuk mendukung transisi energi nasional. Dalam pengembangan sektor ini, KS Orka mencatatkan perannya melalui dua proyek panas bumi utama yang tersebar di wilayah barat dan timur Indonesia.
Dilansir dari laman resmi perusahaan, KS Orka mulai beroperasi di Indonesia sejak 2016 dengan visi mengelola sumber daya panas bumi secara bersih, aman, dan bertanggung jawab, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja.
Sorik Marapi di Sumatra Utara
Proyek Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Wilayah konsesinya berada pada kawasan geologi aktif yang dilalui Sistem Sesar Sumatra dan memiliki potensi sumber daya panas bumi hingga 240 megawatt (MW).
Hingga awal 2025, proyek ini telah mengoperasikan lima unit pembangkit dengan total kapasitas pembangkitan sekitar 200 MW. Seluruh listrik yang dihasilkan disalurkan ke PT PLN (Persero) berdasarkan Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan jangka waktu 35 tahun.
Dilansir dari laman resmi perusahaan, pengembangan Sorik Marapi dilakukan secara bertahap sejak 2019 dan telah melalui proses pengeboran puluhan sumur produksi dan injeksi guna mendukung keberlanjutan operasional pembangkit.
Catatan Lingkungan dan Sosial
Dalam aspek lingkungan, PT Sorik Marapi Geothermal Power mencatat sejumlah penghargaan, antara lain Subroto Award dan predikat PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dua periode penilaian.
Selain itu, pengembangan proyek panas bumi ini juga disertai program pemberdayaan masyarakat Mandailing Natal. Program tersebut mencakup pendampingan petani kopi, petani cabai, pembudidaya ikan, serta penguatan usaha perempuan berbasis produk pertanian lokal.
Sokoria di Flores, Nusa Tenggara Timur
Sementara itu, PT Sokoria Geothermal Indonesia (SGI) mengembangkan lapangan panas bumi di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Lokasi proyek berada sekitar enam kilometer dari Taman Nasional Kelimutu, kawasan konservasi alam yang menjadi ikon pariwisata daerah tersebut.
Dilansir dari laman resmi perusahaan, proyek Sokoria memiliki potensi panas bumi hingga 30 MW dan memanfaatkan sumber daya berentalpi menengah. Dengan penerapan teknologi pembangkit khusus, Sokoria menjadi proyek panas bumi berentalpi menengah pertama di Indonesia.
Hingga kini, dua unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 8 MW telah beroperasi sejak 2022 dan 2023. Energi listrik yang dihasilkan juga dipasok ke PLN melalui skema PPA jangka panjang.
Pelibatan Masyarakat dan Budaya Lokal
Pengembangan panas bumi Sokoria turut melibatkan masyarakat adat setempat. Tokoh adat Musalaki dilibatkan dalam berbagai kegiatan proyek, serta didukung upaya pelestarian rumah adat sebagai pusat aktivitas budaya dan sosial.
Program sosial lainnya mencakup pembangunan infrastruktur desa, bantuan air bersih, edukasi kesehatan ibu dan anak, serta pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi. Melalui Program Putra Daerah, masyarakat lokal juga diprioritaskan dalam proses rekrutmen tenaga kerja.
Panas Bumi dan Transisi Energi
Keberadaan proyek Sorik Marapi dan Sokoria memperlihatkan kontribusi panas bumi dalam mendukung bauran energi nasional. Dengan total potensi mencapai 270 MW, proyek-proyek ini dinilai memperkuat peran energi terbarukan yang stabil dan berkelanjutan di tengah upaya pengurangan emisi karbon.
Namun demikian, pengembangan panas bumi tetap menghadapi tantangan teknis, sosial, dan lingkungan, sehingga keseimbangan antara kepentingan energi dan masyarakat lokal menjadi faktor kunci keberlanjutan proyek ke depan.
Sumber Website: ksorka-sorikmarapi.com
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















