Jakarta, Berita Geothermal – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lonjakan investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) sepanjang 2025. Tambahan kapasitas terpasang EBT tahun lalu mencapai 15.630 megawatt (MW), seiring meningkatnya pembangunan pembangkit berbasis hidro, panas bumi, dan bioenergi.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya minat investor terhadap energi bersih di Indonesia. Pemerintah pun menargetkan kapasitas EBT nasional tumbuh menjadi 16.695 MW pada 2026.
“Nah ini yang kita harapkan nanti di tahun 2026 lebih dari itu, lebih dari target ya dan untuk investasi, kita melihat investasi ini bertambah. Jadi investasi EBT cukup signifikan, target kita hanya 1,5 billion US Dollar, tetapi tercapai 2,2 hingga hampir 2,3 billion US Dollar. Nah ini yang kita dorong dan ini terdongkrak dari panas bumi dan hydro,” kata Eniya, Kamis (5/2/2026).
Ia mengungkapkan, nilai investasi EBT pada 2025 telah menembus US$ 2,284 miliar. Dengan tren tersebut, pemerintah optimistis realisasi investasi pada 2026 bisa melampaui target awal.
“Kalau target secara normal nanti 2 billion US Dollar ada tambahan lagi ya dari khusus EBT dan dorongan investasi-investasi ini sekarang kita lakukan dengan deregulasi proses. Jadi saat ini kalau kita melihat realisasi investasi kan dari panas bumi cukup banyak, ini karena saat ini lelang panas bumi dipercepat nih oleh Pak Menteri (Menteri ESDM Bahlil Lahadalia),” jelasnya.
Menurut Eniya, deregulasi dilakukan untuk memangkas waktu dan tahapan lelang panas bumi. Kini, lelang wilayah kerja panas bumi dapat diakses secara daring, baik oleh pelaku usaha dalam negeri maupun investor global, melalui situs resmi Kementerian ESDM dan aplikasi GENESIS.
“Nah ini di panas bumi kita harapkan investasinya mulai tergerus naik, tergerak naik. Karena saat ini juga ada lelang-lelang Panas Bumi yang kita offer ke internasional. Ini offering dari 10 lokasi Geothermal. Ini kalau kita lihat sebarannya bisa ada di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku,” ujarnya.
Ia menilai kawasan Maluku memiliki posisi strategis untuk pengembangan EBT, khususnya sebagai penopang kebutuhan energi industri pertambangan. Pemerintah berharap sektor-sektor yang selama ini bergantung pada energi fosil dapat beralih secara bertahap ke energi bersih.
Di sisi lain, pengembangan bioenergi juga terus diperkuat. Implementasi biodiesel 40 persen (B40) pada 2025 terbukti memberikan kontribusi ekonomi signifikan, mulai dari peningkatan devisa negara hingga penciptaan lapangan kerja.
“Tahun ini masih B40, tetapi kita sekarang melakukan uji coba untuk B50 juga. Jadi 50% akan bagaimana, saat ini baru tes di lapangan. Di sektor otomotif sudah per hari ini sudah 20.000 km, jadi kita harapkan nanti sampai 50.000 km dan kita bisa dorong lagi. Selebihnya mungkin program Bioetanol, Bioavtur juga kita dorong,” pungkas Eniya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















