Berita Geothermal — Singapura memiliki potensi energi panas bumi, meski berbeda dengan negara seperti Indonesia, Filipina, atau Jepang yang berada di jalur vulkanik. Negeri ini tidak memiliki sumber panas bumi dangkal yang mudah diakses. Karena itu, Singapura mengerahkan lebih banyak upaya riset dan eksplorasi untuk menggali potensi energi panas bumi sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi.
Jika berhasil dimanfaatkan, energi panas bumi berpotensi menggantikan sebagian konsumsi energi fosil dan mendukung target nasional Singapura mencapai emisi nol bersih pada 2050.
Sejak Oktober 2021, sebuah studi komprehensif yang dipimpin oleh Profesor Alessandro Romagnoli dari Nanyang Technological University (NTU), bersama TUMCREATE dan Surbana Jurong Group, mulai meneliti potensi panas bumi Singapura. Studi ini berfokus pada wilayah utara dan timur, termasuk kawasan Taman Air Panas Sembawang yang memiliki suhu permukaan relatif tinggi dan dianggap menjanjikan.
Hasil riset terbaru menunjukkan temuan penting. Dari pengeboran dua sumur di wilayah utara, para peneliti menemukan suhu bawah permukaan mencapai 122°C pada kedalaman 1,76 km di Sembawang. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding temuan sebelumnya di Admiralty yang mencatat 70°C pada kedalaman 1,12 km. Penemuan tersebut memperkuat dugaan bahwa bagian utara Singapura adalah lokasi yang sangat potensial untuk eksplorasi panas bumi lebih lanjut.
Temuan ini dipaparkan dalam simposium publik bertajuk “Energi Panas Bumi Ada di Bawah Kaki Kita, Bagaimana Kita Memanfaatkannya?”. Acara tersebut mempertemukan pakar internasional dari berbagai lembaga, termasuk Universitas Teknik Munich (TUM), International Energy Agency (IEA), Dewan Energi Panas Bumi Eropa (EGEC), Kementerian ESDM Indonesia, serta European Technology & Innovation Platform on Geothermal (ETIP-G).
Diskusi berfokus pada bagaimana negara, industri, dan akademisi bisa berkolaborasi memanfaatkan energi panas bumi di kawasan perkotaan padat seperti Singapura.
Penelitian ini merupakan bagian dari studi nasional yang didukung National Research Foundation (NRF) dan Energy Market Authority (EMA) Singapura. Tim gabungan yang dipimpin Prof. Romagnoli bersama Dr. Tobias Massier dari TUMCREATE menilai bahwa meskipun tidak berada di zona vulkanik, Singapura memiliki gradien panas yang tinggi. Analisis inti batuan menunjukkan aliran panas di bagian utara setidaknya dua kali lipat rata-rata global.
“Dengan suhu terukur 122°C pada kedalaman 1,76 km, sumur bor Sembawang menjadi rujukan baru untuk penilaian panas bumi di Singapura,” ujar Prof. Romagnoli, Direktur Klaster Sistem & Jaringan Multi-Energi, ERI@N.
Ia menambahkan, potensi tersebut membuka peluang penggunaan teknologi panas bumi yang sudah tersedia secara komersial, baik untuk pembangkit listrik maupun sistem pendinginan distrik. Kombinasi gradien panas tinggi dengan batuan granit yang kaya panas memberikan alasan kuat untuk melakukan pemetaan lebih luas di bawah permukaan wilayah utara Singapura.***
Sumber: NTU dan berbagai sumber lain
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















