Berita Geothermal – Hachimantai, sebuah kota di Prefektur Iwate, Jepang, bukan hanya dikenal dengan lanskap vulkanik dan pemandian air panasnya yang indah, tetapi juga sebagai kota yang menjadikan energi panas bumi sebagai identitas dan kebanggaan warganya.
Dengan luas wilayah 862,30 km² dan populasi sekitar 25 ribu jiwa (menurut sensus tahun 2020), Hachimantai tampil sebagai teladan pemanfaatan energi bersih panas bumi yang berkelanjutan.
Hachimantai berjarak sekitar 552 km di utara Tokyo. Lokasinya mudah dijangkau dengan kereta Shinkansen hingga Morioka, dilanjutkan kereta lokal atau bus.
Bagi warga dan orangtua di Hachimantai, sumber daya alam panas bumi yang melimpah menjadi kebanggaan dan berusaha menanamkannya kepada anak-anak mereka.
Listrik panas bumi
Saat ini, seluruh kebutuhan listrik bagi sekolah dasar dan menengah pertama di Hachimantai, serta Sekolah Internasional Harrow Appi Japan, dipasok sepenuhnya oleh tenaga panas bumi.
Energi tersebut bersumber dari dua pembangkit listrik yaitu PLTP Matsuo-Hachimantai berkapasitas 7,4 MW yang beroperasi sejak 2019, serta PLTP Appi berkapasitas 14,9 MW yang mulai beroperasi komersial tahun lalu.
Selain sekolah, pasokan panas bumi juga mengalir ke 78 fasilitas lain, termasuk Balai Kota, bisnis lokal, hingga Resor Hachimantai. Kapasitas gabungan kedua pembangkit ini mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 40 ribu rumah tangga. Hal ini membuat Hachimantai menjadi salah satu kota dengan infrastruktur energi terbarukan panas bumi paling maju di Jepang.
Yang menarik lagi, bagi warga Hachimantai, energi panas bumi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga warisan yang harus diturunkan pada generasi muda. Pemerintah kota setiap tahun menjalankan program “Tim Eksplorasi Panas Bumi”. Dalam kegiatan ini anak-anak Hachimantai diajak untuk berkunjung ke fasilitas energi panas bumi serta industri lainnya yang didukung panas bumi.
Kepala Sekolah Dasar Kashiwadai, Atsushi Yamamura, mengatakan:
“Hanya dengan menggunakan listrik saja, anak-anak sulit melihat energi panas bumi sebagai aset lokal. Dengan mencium aroma mata air panas dan belajar langsung tentang pekerjaan yang bergantung pada tenaga panas bumi, mereka berkesempatan menghargai kampung halaman sebagai ‘kota panas bumi’.”
Di Hachimantai, selain untuk listrik, panas bumi juga mendukung pertanian lokal melalui pemanfaatan air panas untuk greenhouse, yang menumbuhkan pertanian organik seperti kemangi dan jamur.
Dengan teknologi panas bumi yang berpadu dengan semangat orangtua menanamkan kebanggaan pada anak-anak, Hachimantai kini berdiri bukan hanya sebagai kota energi bersih, tetapi juga kota yang mampu merangkul masa depan dengan menjaga warisan alamnya.***
Sumber: ThinkGeoEnergy dan rujukan lainnya
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















